Dalam Diam, Hatiku Menangis Tanpa Suara
Dalam
Diam, Hatiku Menangis Tanpa Suara
Oleh
: Malika Defani Fajrin
Masa
kecil adalah masa terindah yang setiap orang miliki atau rasakan. Sekecil apa
pun hal yang dapat membuat kita sedih, marah, dan gembira, semuanya akan
menjadi kenangan yang tersimpan.
Sejak
usia 5-6 tahun, anak-anak mulai menyimpan memori halus dan kasar dalam diri
mereka. Tak sedikit dari mereka yang menerima atau bahkan mendapatkan kenangan
terburuk, terjahat, dan tersedih di dalam otaknya. Meski begitu, tidak sedikit
juga anak-anak yang sepenuhnya memegang kendali atas peristiwa-peristiwa indah
di masa kecilnya.
Misalnya, seorang anak bernama Fani yang tumbuh di desa kecil dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Setiap sore, Fani dan teman-temannya bermain di sawah, berlarian di antara tanaman padi, dan membuat permainan dari benda-benda alam. Suatu hari, mereka menemukan bunga liar yang indah dan memutuskan untuk membuat mahkota dari bunga-bunga itu. Mereka tertawa, bersenang-senang, dan merasa seperti raja dan ratu kecil di kerajaan mereka sendiri. Kenangan ini selalu tersimpan dalam benak Fani sebagai momen kebahagiaan yang tak terlupakan.
Namun, ada juga kisah lain seperti Budi yang tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya sering marah dan mengomel tanpa sebab yang jelas. Budi sering merasa takut dan sedih, namun ia menemukan pelarian dalam menggambar. Melalui gambar-gambar yang ia buat, Budi menciptakan dunia yang penuh warna dan kebahagiaan, jauh dari kenyataan pahit yang ia hadapi setiap hari. Kenangan ini, meski pahit, membuat Budi tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan kreatif.
Ketika anak memasuki usia 7-17 tahun, mereka akan dihadapkan dengan kesibukan di sekolahnya. Hal ini sering kali membuat mereka melupakan kenangan indah yang pernah mereka simpan. Ketika memasuki usia remaja antara 18-22 tahun, mereka akan disibukkan dengan kegiatan pendidikan lanjutan dan pekerjaan.
Namun,
terkadang terbersit di pikiran kita betapa senangnya saat kita masih kecil. Di
tengah-tengah kesibukan kita, kita merenung mengingat peristiwa-peristiwa yang
telah atau sedang kita alami. Meski hati tak kuat menahan bendungan air mata,
kita tetap berpura-pura sehat dan bugar. Dalam diam, hati kita menangis tanpa
suara karena beban hidup yang semakin berat.
Kita
sering kali dipaksa kuat oleh keadaan tanpa persetujuan dari diri kita.
Pernahkah kita berpikir ketika kita mengambil keputusan mendadak tanpa berpikir
panjang? Pernahkah kita berbicara dengan diri sendiri? Pernahkah kita
mengizinkan diri kita untuk bersenang-senang? Dan pernahkah kita mengizinkan
diri kita untuk beristirahat sejenak?
Hal
tersimplenya, pernahkah kalian berkata bahwa kalian hebat dari hari ke hari
kepada diri kalian sendiri? Cobalah merenung, apa yang telah kita ambil, dan
apa yang telah kita lupakan. Adakah hal-hal penting yang seharusnya menjadi
sumber kebahagiaan kita, namun justru kita tolak mentah-mentah?
Pernahkah
kalian membicarakannya sendiri dalam diri kalian sendiri? Berbicara sendiri
bukan berarti kalian tidak waras. Namun, dalam diri kalian ada yang disebut
raga atau ruh. Sudahkah kalian mengucapkan terima kasih kepada mereka? Atau
mengucapkan kata maaf kepada mereka, karena kalian tidak pernah membahagiakan
mereka?
Stop!
Berusahalah untuk membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. Lebih peduli lagi
pada diri kalian sendiri, memperluas wawasan, memperkaya diri, mempercantik
diri, memberi hadiah kecil atau rewards untuk diri kalian, jiwa yang ada dalam
diri kalian.
Meskipun
sulit dilaksanakan, cobalah secara perlahan. Kelak, kalian akan menjadi jiwa
yang bersih tanpa kesedihan. Meskipun kesedihan terus berdatangan, kalian sudah
mampu menghadapinya dengan kekuatan yang ada dalam diri kalian. Upgrade
diri sehari 15 menit, berbicara tentang siapa saja dan apa saja, untuk diri
kalian, hanya diri kalian, dan tanpa orang lain yang mendengarkan.

Komentar
Posting Komentar
Berikan Pesan Positif Anda :)