PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 3 Oleh : Malika Defani Fajrin Lorong apartemen yang sudah usang tampak suram dan penuh dengan kenangan masa lalu. Dinding-dindingnya kusam dan retak, dengan cat yang mengelupas, memberikan kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan. Lampu-lampu redup yang tergantung di langit-langit berkelap-kelip, menciptakan bayangan yang bergerak di sepanjang lorong. Di tengah lorong, Luna berjalan dengan langkah hati-hati. Rambut panjangnya tergerai, dan matanya yang besar memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan. Luna membuka pintu kamar apartemennya dan melangkah masuk. Kamar itu kecil namun nyaman, dengan dinding berwarna pastel dan perabotan sederhana namun fungsional. Sebuah jendela besar di satu sisi kamar membiarkan cahaya matahari masuk, menerangi seluruh ruangan dengan sinar hangat. Bu Sari berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut. Luna berbalik dan memandangnya dengan mata penuh rasa terima kasih. Mereka s...