Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 4

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 3 Oleh : Malika Defani Fajrin Luna kembali ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang baru saja ia lihat. “Pak, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Seorang anak lelaki baru saja diculik!” ucap Luna tergesa-gesa tanpa mengambil napas sedikitpun, dengan dada berdebar. “Silakan, Adik duduk dulu. Ada apa?” kata petugas polisi yang sedang bertugas di meja kursinya. Polisi terlihat tenang dan bersikap aneh. Luna menjelaskan maksudnya dengan hati-hati dan pelan agar bisa dimengerti. “Pak, tadi, baru saja saya keluar dari kantor polisi ini mengajukan laporan bahwa Mamah saya hilang. Lalu, saya berjalan pulang sambil menyebarkan brosur foto milik Mamah saya. Seketika, saya melihat seorang anak lelaki yang sedang diculik di sudut gang itu! Saya mencoba untuk mengejarnya, tapi ada laki-laki dewasa lain yang mengejarnya. Saya takut membahayakan diri saya. Jadi, saya melaporkan kepada Bapak sebagai pihak yang berwajib dan be...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 3

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 3 Oleh : Malika Defani Fajrin Lorong apartemen yang sudah usang tampak suram dan penuh dengan kenangan masa lalu. Dinding-dindingnya kusam dan retak, dengan cat yang mengelupas, memberikan kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan. Lampu-lampu redup yang tergantung di langit-langit berkelap-kelip, menciptakan bayangan yang bergerak di sepanjang lorong. Di tengah lorong, Luna berjalan dengan langkah hati-hati. Rambut panjangnya tergerai, dan matanya yang besar memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan. Luna membuka pintu kamar apartemennya dan melangkah masuk. Kamar itu kecil namun nyaman, dengan dinding berwarna pastel dan perabotan sederhana namun fungsional. Sebuah jendela besar di satu sisi kamar membiarkan cahaya matahari masuk, menerangi seluruh ruangan dengan sinar hangat. Bu Sari berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut. Luna berbalik dan memandangnya dengan mata penuh rasa terima kasih. Mereka s...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 2

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 2 Oleh : Malika Defani Fajrin Dua bulan kemudian...   Luna sedang berkemas memasukkan bajunya ke dalam koper, dan Aurora membantu kakaknya merapikan peralatan mandinya.  “Harus secepat ini, Kak?”  tanya Aurora.  “Iya, Dek, lebih cepat lebih baik. Kakak bisa mencari Mama,”  jawab Luna sambil melipat bajunya.  “Kakak nanti tinggal di mana?”  tanya Aurora lagi.  “Ada apartemen kosong tempat Papa bekerja dulu, Dek. Kakak sudah menghubungi teman Papa beberapa hari lalu untuk minta digunakan lagi,”  jawab Luna, menenangkan perasaan cemas adiknya.   Pada siang hari, matahari bersinar terang di langit biru tanpa awan, menciptakan suasana yang hangat dan cerah.   Luna, mengenakan pakaian kasual dan membawa koper besar serta tas selempang di bahunya, berjalan menuju halte bus. Wajahnya tampak bersemangat dan penuh antusiasme, Aurora menemani perjalanan kakaknya.   Ketika bus akhirnya...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 1

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  Oleh : Malika Defani Fajrin Pagi hari yang cerah, seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia meregangkan tubuhnya agar terasa nyaman di pagi hari. "Ahh... Mamaaa," panggilnya kepada mamanya yang sedang memasak sarapan untuk gadis itu. Kita panggil saja dengan sebutan Luna. Luna saat ini sedang duduk di bangku SMA dan sebentar lagi akan lulus ujian serta menempuh pendidikan lanjutannya. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri meja belajarnya yang sudah penuh dengan tempelan kertas di dinding-dinding kamarnya yang tidak lain adalah jadwal padatnya agar tidak lupa dan tertinggal. Ia mencoret sebuah tanggal di kalender. "Sekarang tanggal 17... coret... sebentar lagi aku lulus ujian!" Luna mencatat segala apapun secara detail dan cermat. "Kakak, ayo kita sarapan dulu sebelum kamu berangkat sekolah," ucap mamanya yang sudah selesai memasak sarapan. Luna menghampiri mamanya dan mencium pipinya. ...

O ALLAH, WHY ALWAYS ME? PART 2

“Aku terlempar beberapa kilometer, nyawaku tak tertolong. Di persimpangan jalan ini, aku menghembuskan napas terakhirku.” -Erlangga-   Aku, Dion, saksi atas peristiwa tragis teman sekamarku. Pada pukul 02.21 dini hari, Erlangga, teman sekamarku, ditemukan tergeletak di persimpangan jalan gang-gang kecil kota. Ada polisi yang membantu penyelidikan dan juga ambulans yang membawa jenazah temanku. Aku yang langsung kembali ke asrama pada malam hari itu di hutan, tidak tahu bahwa itu pertemuan terakhirku dengan Erlangga. Pagi hari pukul 09.40, polisi dan anggota lainnya mendatangi asramaku. Mereka ingin mencari tahu penyebab kematian temanku, Erlangga. Aku hanya bisa menatap mereka dari sudut kamar ini, sementara mereka mewawancarai kepala asramaku. Justru, mereka tidak tahu apa-apa. Akulah yang harus diwawancarai, bukan mereka. Di sudut lain, pelaku kejahatan sedang menyaksikan wawancara berlangsung. Aku geram melihatnya, tapi aku tidak bisa berkutik. Wajahnya biasa saja, tidak...

O ALLAH, WHY ALWAYS ME? PART 1

     O ALLAH, WHY? ALWAYS ME?        O Allah, Why? Always Me? Oleh : Malika Defani Fajrin   Aku, Erlangga, berlari di bawah cahaya gelap rembulan, menyusuri gang-gang sempit di tengah kota. Nafasku tersengal-sengal, dikejar oleh sosok manusia yang menikmati penderitaanku. Mereka tidak peduli dengan kehidupan sosial atau perlindungan terhadap sesama. Yang ada di pikiran mereka hanyalah cara baru untuk menyiksaku. Dengan segenap kekuatan, aku berhasil meloloskan diri dari ikatan tali tambang yang membelenggu tangan dan kakiku. Teman asrama, seorang sahabat setia, menyelipkan pisau kecil ke tanganku. Dia tidak bisa membantuku secara langsung karena takut ketahuan oleh para penyiksa itu. Namun, keberaniannya memberiku harapan.   Pada tahun pertama di asrama, aku menjalani tugas-tugas kecil hingga besar tanpa menyadari bahwa orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungku adalah ancaman terbesar. Tahun kedua, mereka mulai beran...

WHY? ALWAYS THEM? WHY NOT ME?

  Why? Always Them? Why Not Me? Oleh : Malika Defani Fajrin   Mengapa manusia berlomba-lomba untuk menjadi seperti orang lain? Padahal mereka adalah individu unik yang tidak mungkin dimiliki orang lain. Mengapa kamu ingin menjadi seperti orang lain? Padahal, mereka pun ingin menjadi seperti kamu. RASA TIDAK PUAS - Ketika kamu merasa tidak puas dengan diri sendiri, rasa itu menimbulkan keinginan untuk bersaing dengan orang lain. Tanpa kamu sadari, kamu telah melukai diri sendiri. Mengapa kamu terus-menerus mengeluh bahwa kamu terluka atau dilukai oleh orang lain? Mengapa tidak bercermin, karena kamulah yang menaruh harapan lebih kepada orang lain agar kamu menjadi seperti mereka. Itulah sebabnya kamu terluka. Terkadang, memang ada beberapa hal yang seharusnya kamu terima, tetapi mungkinkah ketika hal itu belum sampai ke dirimu, kamu akan memaksanya untuk segera mendatangimu? BAGIAN - Itu adalah bagian mereka. Kamu pun memiliki bagianmu masing-masing. Bisakah kamu menunggu...