PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 3
Oleh : Malika Defani Fajrin
Lorong
apartemen yang sudah usang tampak suram dan penuh dengan kenangan masa lalu.
Dinding-dindingnya kusam dan retak, dengan cat yang mengelupas, memberikan
kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan. Lampu-lampu redup yang
tergantung di langit-langit berkelap-kelip, menciptakan bayangan yang bergerak
di sepanjang lorong.
Di tengah
lorong, Luna berjalan dengan langkah hati-hati. Rambut panjangnya tergerai, dan
matanya yang besar memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu dan sedikit
ketakutan.
Luna
membuka pintu kamar apartemennya dan melangkah masuk. Kamar itu kecil namun
nyaman, dengan dinding berwarna pastel dan perabotan sederhana namun
fungsional. Sebuah jendela besar di satu sisi kamar membiarkan cahaya matahari
masuk, menerangi seluruh ruangan dengan sinar hangat.
Bu Sari
berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut. Luna berbalik dan memandangnya
dengan mata penuh rasa terima kasih. Mereka saling berpelukan erat, merasakan
kehangatan dan kasih sayang yang mendalam.
“Terima
kasih, Bu,” kata Luna dengan suara lembut.
Bu Sari
mengelus rambut Luna dengan penuh kasih. “Jaga dirimu baik-baik, sayang. Ibu
selalu ada untukmu.”
Setelah
beberapa saat, mereka melepaskan pelukan. Bu Sari melangkah mundur, memberikan
satu senyuman terakhir sebelum berbalik dan berjalan pergi. Luna menutup pintu
dengan perlahan, merasakan kehangatan perpisahan yang penuh kasih. Lorong
apartemen yang usang itu kini terasa sedikit lebih cerah, seolah-olah dipenuhi
dengan kenangan indah dari pertemuan mereka.
Petualangan
bermula...
Di sebuah
distrik kota yang sibuk dengan berbagai macam kegiatan, selembaran kertas orang
hilang terpampang di setiap sudut. Dari dewasa, anak-anak, bahkan yang lansia
turut dicari.
Suara
sirine polisi dan ambulans menjadi alunan musik setiap hari di kota ini. Luna
belum menyadari bahwa rumor buruk yang ia dengar adalah sebuah kebenaran dan
rintangan yang harus ia hadapi seorang diri.
Luna
keluar dari apartemennya untuk membeli kebutuhannya. Angin sore yang sejuk
berhembus lembut, membawa aroma tanah yang segar dan dedaunan yang bergoyang
pelan. Suara burung-burung yang kembali ke sarang mereka menambah suasana
damai. Di kejauhan, suara anak-anak yang bermain dan tawa mereka terdengar,
menambah keceriaan sore hari.
Luna tiba
di supermarket yang menjual bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Di sampingnya,
ada seorang pria berbadan besar yang sedang menatapnya, namun Luna
mengabaikannya.
“Hati-hati,” ucap pria
berbadan besar itu kepada Luna. Luna menoleh, melihat pria itu dengan rasa
heran dan tak percaya.
Luna tiba
di meja kasir. “Totalnya Rp245.000,” ucap kasir di sana. Luna memasukkan
belanjaannya ke dalam tas kantong yang sudah ia siapkan sebelum berangkat,
karena di supermarket ini tidak menyediakan kantong plastik. “Terima kasih,”
ucap Luna sambil meninggalkan meja kasir.
Luna
berjalan meninggalkan supermarket, mengingat kembali pertemuan dengan pria
berbadan besar tadi. Ketidakpeduliannya mungkin mengabaikan peringatan atau
pesan penting.
Matahari
semakin mendekati cakrawala, sinarnya menjadi lebih lembut dan hangat,
menciptakan bayangan panjang di tanah. Di tepi pantai, suara ombak berdebur
lembut menambah suasana damai. Di kota, lampu-lampu mulai menyala, menciptakan
kontras indah dengan langit senja.
Sesampainya
di depan pintu kamarnya, Luna mengambil kunci dari saku bajunya. Pintu terbuka,
dan ia mulai melangkah masuk. Namun, sebelum langkah kaki lainnya masuk,
terdengar suara benturan keras dari samping kamarnya. Ia keluar untuk melihat
sumber suara itu.
“Permisi,
apakah Anda baik-baik saja?” tanya Luna kepada tetangga samping kamarnya.
Namun, hanya keheningan yang menjawabnya. Ia kembali masuk ke kamar.
Malam ini
terasa dingin dan sunyi. Langit gelap dihiasi bintang-bintang yang berkelip,
sementara bulan sabit menggantung rendah di cakrawala, memberikan sedikit
cahaya lembut. Jalanan sepi, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan
dan sesekali suara kendaraan melintas di kejauhan.
Di bawah
lampu jalan yang redup, seorang ibu berjalan dengan langkah berat. Wajahnya
tampak lelah dan penuh kekhawatiran. Di tangannya, ia memegang selembaran foto
anaknya yang hilang. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, namun ia
terus berjalan, menyebarkan selembaran itu di setiap sudut yang ia lewati.
Ia
menempelkan selembaran di tiang-tiang lampu, di dinding-dinding toko yang sudah
tutup, dan di papan pengumuman. Setiap kali ia menempelkan selembaran, ia
berhenti sejenak, memandang foto anaknya dengan mata penuh harapan dan doa.
“Anakku,
di mana kamu?” bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam dalam kesunyian malam.
Fajar
mulai menyingsing, dan langit berubah dari gelap menjadi gradasi warna biru
muda yang lembut. Luna terbangun dari tidurnya dan mulai menjalankan misi
pencarian Mamahnya.
Ia bangun
dari tempat duduknya dan menulis catatan di kertas yang tertempel di dinding
kamarnya. “Number One, Policy!” ucapnya sambil mengunyah roti dari
tangannya. Hari ini, ia menggunakan jaket kulit kecokelatan layaknya seorang
gadis detektif.
Luna tiba
di kantor polisi dan mengajukan permohonannya untuk mencari Mamahnya di kota
Mysthaven, karena di kota tempat tinggalnya dulu tidak menemukan jawabannya. “Saya
ingin melaporkan orang hilang, Pak,” ucap Luna di depan petugas kepolisian.
“Boleh
sebutkan ciri-cirinya, waktu, dan terakhir dilihatnya?” tanya
petugas polisi.
Luna
merapatkan jaketnya, siap memberitahu identitas Mamahnya. “Orang hilang,
adalah Mamah saya sendiri, Pak. Ia berusia 50 tahun, berambut panjang, tinggi
175 cm, berat badan 50 kg, kulit putih susu, punya tanda lahir di belakang
telinganya. Terakhir meninggalkan rumah hari Senin, tanggal 17 Oktober 2023
pukul 07.30 pagi di rumahnya di Kota Auroraville. Sekian, Pak.”
“Auroraville?”
ucap petugas polisi itu. “Itu kota yang sangat jauh dari sini. Kenapa Adik
mencari di kota ini?” lanjutnya.
Luna mulai
menunjukkan sisi kekhawatirannya, takut laporannya akan ditolak karena berbeda
kota. “Ayah saya dulu kerja di sini, Pak, dan saya akan kuliah di sini.
Jadi, alangkah baiknya saya turut mencari Mamah saya, bukan hanya kuliah saja,
Pak,” jawab Luna hati-hati. Padahal, tujuan Luna memilih kuliah di kota
Mysthaven adalah demi mencari Mamahnya.
“Baik,
laporan Adik kami terima. Mohon tinggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi,
dan foto Ibunya,” kata petugas polisi itu.
Luna
menghela napas. “Oh, syukurlah. Terima kasih, Pak. Terima kasih,” ucap
Luna bahagia dan berjabat tangan dengan petugas kepolisian itu.
Luna
meninggalkan kantor polisi dan mulai berjalan ke seluruh sudut kota untuk
menyebarkan brosur foto Mamahnya yang hilang. Ia sudah menyiapkan selembaran
itu sebelum datang ke kota ini.
Luna
berjalan perlahan di gang-gang kota yang sepi. Dinding-dinding bangunan di
sekitarnya tampak tua dan berlumut, dengan beberapa poster orang hilang yang
sudah pudar menempel di sana-sini. Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat seorang
anak lelaki berlari. Anak itu tampak tergesa-gesa, dengan rambut pendek dan
pakaian yang sedikit kotor. Luna berhenti sejenak, memperhatikan anak tersebut
dengan rasa ingin tahu dan sedikit kekhawatiran.
Luna
mengejarnya. "Hei, hei! Tunggu!" teriak Luna. Seorang
laki-laki dewasa muncul dari sisi gang lainnya. Mata Luna melihat kejanggalan
di hadapannya, dan ia berhenti mengejar anak laki-laki itu. Namun, ia tetap
membuntutinya secara diam-diam.
Penglihatan
Luna melihat kejadian terburuk pertama dalam hidupnya, yaitu sebuah kasus
penculikan!

Seru banget anjayy
BalasHapus