Langsung ke konten utama

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 1

 





PETUALANGAN  BERMULA  LUNA 

Oleh : Malika Defani Fajrin



Pagi hari yang cerah, seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia meregangkan tubuhnya agar terasa nyaman di pagi hari. "Ahh... Mamaaa," panggilnya kepada mamanya yang sedang memasak sarapan untuk gadis itu. Kita panggil saja dengan sebutan Luna. Luna saat ini sedang duduk di bangku SMA dan sebentar lagi akan lulus ujian serta menempuh pendidikan lanjutannya.


Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri meja belajarnya yang sudah penuh dengan tempelan kertas di dinding-dinding kamarnya yang tidak lain adalah jadwal padatnya agar tidak lupa dan tertinggal.


Ia mencoret sebuah tanggal di kalender. "Sekarang tanggal 17... coret... sebentar lagi aku lulus ujian!" Luna mencatat segala apapun secara detail dan cermat. "Kakak, ayo kita sarapan dulu sebelum kamu berangkat sekolah," ucap mamanya yang sudah selesai memasak sarapan.


Luna menghampiri mamanya dan mencium pipinya. "Mmmuach... doain ya, Mah. Semoga Luna lulus ujian dan diterima di salah satu universitas impian Luna." "Baik, baik. Sekarang sarapan dulu," ucap mamanya sambil mempersilakan Luna duduk.


Aurora, adiknya Luna, baru saja terbangun dari tidurnya. Ia berjalan ke meja makan. "Mama, kok gak bangunin aku sih... aku kan sekolah," ucapnya sambil menggosok kedua matanya. "Hehe, iya maaf. Mama baru saja selesai masak," ucap mamanya sambil mengusap lembut kepala Aurora.


Mereka bertiga makan dengan lahap dan nyaman sambil menikmati berita di televisi.


Presenter pembawa berita: "Kota Mysthaven telah berdiri sejak masa penjajahan Jepang. Namun, saat ini kota Mysthaven belum mengalami kemajuan. Untuk lebih jelasnya, kami akan menyambungkan Anda kepada Wali Kota Mysthaven, Eldric Thorne. Bapak Eldric Thorne, mendengar suara saya?"


Eldric Thorne: "Ya, ya, halo, selamat pagi."


Presenter: "Bagaimana perkembangan kota Anda saat ini?"


Eldric Thorne: "Kota Mysthaven saat ini sedang menemukan sumber kekuatannya sebagai kota produksi dan penjualan terbesar dibandingkan kota-kota lainnya."


"Sudah, sudah, matikan TV-nya," ucap mama Luna sambil menekan tombol remote televisi. "Mah, aku mandi dulu ya," ucap Luna bergegas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. "Aurora, kamu ada tugas apa di sekolah?" tanya mamanya. "Tugas membuat nama-nama kota dan penjelasannya, Mah," ucap Aurora setelah selesai makan.


Luna sudah selesai mandi dan bergegas berpakaian untuk berangkat sekolah. "Mah, aku berangkat ya," ucap Luna dengan lantang. Namun, tak ada jawaban. Luna mengetuk pintu kamar mandi. "Tok, tok, tok," ucap Luna. "Kenapa?" sahut adiknya dengan suara air. "Mama mana?" tanya Luna. "Keluar sebentar," ucap Aurora. "Bilang ke Mama Luna jalan sekarang." "Iyaaa," ucap Aurora dengan lantang.


Setiba di sekolah, Luna disambut oleh sekawanan teman-temannya. "Lama banget loh!" kata salah satu temannya. "Sorry, tadi gue nyari nyokap gue dulu," jawab Luna. Mereka berjalan menuju kelasnya untuk menyimpan tas, lalu pergi lagi bersama-sama untuk duduk di taman.


"Eh, eh, eh, kalian udah pada tau belum rumor tentang kota Mysthaven?" ucap Selene, teman Luna. "Belum, belum. Ada apa?" sahut yang lain. "Gue denger dari bokap gue yang kerja di sana. Katanya setiap tahun ada laporan orang hilang atau diculik. Gue gak tau ya hilang karena diculik atau gimana." Teman-teman yang mendengarnya terkejut dan terdiam. Lalu, Luna menyahut, "Bukannya laporan orang hilang itu sudah biasa ya?" tanya Luna kepada Selene. "Iya bener tuh," sahut yang lain.


“Enggak, kali ini berbeda,” bantah Selene. “Laporan orang hilang tertinggi ada di kota Mysthaven. Dan apa kalian tahu?” Tunjuk Selene kepada yang lainnya. “Setiap kali ada laporan orang hilang dari kota-kota lainnya, posisi terakhir orang itu selalu ada di kota Mysthaven!” Pernyataan Selene mengagetkan semuanya. Obrolan semakin seru dan panas. Namun, bel sekolah berbunyi dan menandakan telah masuk jam pelajaran.


Langit biru yang cerah dan sinar matahari yang hangat memberikan energi dan semangat untuk menjalani hari. Jam pelajaran Luna telah berakhir dan ia berjalan keluar sekolah. “Luna... Lunaa!” teriak Selene mengejar Luna dibelakangnya dan menghentikan langkah Luna. “Ada apa?” tanya Luna berbalik badan. “Lo kenapa gak tungguin gue sih?” ucap Selene, terengah-engah.


“Gue mikirin ucapan elo yang tadi itu, emang bener ya rumor itu?” tanya Luna heran. “Gue juga enggak tau sih tentang kebenarannya. Tapi, gue denger sendiri dari bokap gue,” jawab Selene, meyakinkan Luna. “Yaudah ya gue balik duluan, nanti gue telepon. Dahh,” ucap Luna meninggalkan Selene. “Oke!” jawab Selene lantang sambil melambaikan tangan kepada Luna.


Luna tiba di rumahnya, dan mendapati rumahnya kosong. “Mah, Mah, Mamah,” ucap Luna mencari mamanya, membuka setiap pintu rumahnya. Luna teringat ucapan Selene, ia berkeringat cemas dan panik. Ia menelepon adiknya yang berada di sekolah, sekarang seharusnya adiknya sudah di jalan pulang sekolah.


“Halo... Dek... Dekk?” tanya Luna. “Iya, Kak, kenapa?” jawab Aurora. “Kamu liat Mamah gak pas berangkat sekolah?” tanya Luna. “Enggak, Kak, aku juga nyariin Mama tadi,” jawab Aurora. “Kak... halo Kak?” lanjutnya. Luna gemetaran dan tak mampu mengucapkan satu kata pun, lalu telepon mati. Aurora segera berlari menuju rumahnya, ia merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya, Luna.


Sesampainya di rumah, ia membuka pintu dengan keras. Ia melihat kakaknya sudah duduk di pojok ruang tamu sambil menangis menggenggam telepon. “Kak, Kak... ada apa sebenarnya?” tanya Aurora, menggoyangkan tubuh kakaknya.


“Mamah, Dek... Kakak takut, Mamah diculik...” ucap Luna terbata-bata. Aurora kaget dan menjatuhkan diri dari jongkoknya, “Hah, kok bisa, Kak? Gak mungkin, Kak! Orang tadi Mama ada, kok!” ucap Aurora, tidak mempercayai ucapan kakaknya. “Tolong, telepon teman Kakak, Dek. Namanya Selene. Suruh ia kemari, secepatnya, Dek,” ucap Luna dengan lemahnya.


Aurora mengambil handphonenya dari saku seragam sekolahnya dan langsung menelepon, “Halo...”, “Iya halo?” ucap Selene. “Halo, Kak Selene? Ini aku, Aurora, adiknya Kak Luna. Temannya Kakak,” ucap Aurora, menjelaskan dirinya. “Oh, iya Dek. Ada apa?” tanya Selene dengan was-was. “Kakak bisa ke rumah aku secepatnya gak? Karena Kak Luna yang memintanya,” ucap Aurora, dengan tidak enak hati. “Oh, iya baik. Kakak akan segera ke sana ya! Tolong tunggu ya! Jangan ke mana-mana!” ucap Selene dan telepon mati.


“Kak, Kak Selene mau ke sini..,” kata Aurora, membangunkan kakaknya agar duduk di kursi. Aurora menunggu kehadiran Selene, ia berjalan mengitari bingkai-bingkai yang terpasang di dinding rumahnya. “Andai Ayah ada di sini, Kak... pasti kita tidak kesulitan seperti ini,” ucap Aurora, memandangi foto ayahnya. Luna melirik foto ayahnya dan foto lainnya dan tersenyum kecil. “Pikiran aku saat ini cuma Mama, Dek. Itu harapan kita satu-satunya,” ucap Luna dengan sikap realistisnya.


Pintu rumah berbunyi ketukan dari luar, “Sepertinya, Kak Selene sudah datang, Kak,” ucap Aurora menghampiri pintu dan membukanya. “Selene..,” ucap Luna sambil langsung memeluk Selene. “Ada apa ini?” ucap Selene melepas pelukan Luna dan merangkulnya ke dalam. “Mama aku hilang, Len, dari pagi, sejak aku berangkat sekolah sudah tidak ada,” ucap Luna. “Aku pikir, Mama cuma keluar sebentar aja, pun gak bilang apa-apa sama aku,” tambah Aurora. “Sudah coba cari di lain tempat? Siapa tahu ke rumah saudara atau tetangga kamu?” tanya Selene, menyelidiki.


“Mama tuh, gak biasanya begini, Len. Mama selalu bilang ke kita apapun hal kecilnya. Ini Mama pergi tanpa meninggalkan satu kata pun. Mama gak biasa begini, Len, kalau pun pergi biasanya Mama selalu ninggalin secarik kertas yang di tempel di kulkas buat kita,” lanjut Luna menjelaskan kebiasaan mamanya.


“Mungkin, ada kabar yang membuat Mama kamu terburu-buru?” tanya Selene masih menyelidiki. “Sudah coba telepon nomornya?” lanjutnya. “Sudah, tapi tidak aktif. Ke semua saudara dan tetangga mengatakan hal yang sama, katanya tidak lihat Mama,” ucap Aurora. “Aku coba telepon Papah aku dulu ya,” ucap Selene, mengusap pundak Aurora.


Selene pergi keluar untuk berbicara dengan Papahnya da masuk kembali untuk menjelaskan isi dari teleponnya. “Gimana?” tanya Luna. “Papah aku sudah tahu, dan akan segera menyelidikinya,” ucap Selene, yang ayahnya adalah seorang polisi kota. “Makasih yah, Len,” ucap Luna menggenggam tangan Selene. “Makasih, Kak Selene,” ucap Aurora memeluk Selene.


Matahari mulai terbenam, menciptakan pemandangan yang memukau dengan semburat warna merah keemasan di langit. Selene pamit pulang ke rumahnya.


Hari berganti dengan ritme yang tak pernah terhenti. Matahari terbit di ufuk timur, menyinari dunia dengan cahayanya yang hangat.


Dua minggu setelahnya...


Hari kelulusan Luna tiba. Ia sedang berdandan di kamarnya, dibantu oleh adiknya, Aurora. “Makasih ya, Dek, udah temenin Kakak selama ini,” ucap Luna, memandangi Aurora dari kaca lemari. “Sama-sama, Kak,” jawab Aurora dengan tenang sambil merapikan rambut kakaknya.


Setelah bertahun-tahun belajar dan menghadapi berbagai tantangan, Luna akhirnya tiba saatnya untuk merayakan pencapaian besar ini. Suasana hari wisuda dipenuhi dengan kebahagiaan, kebanggaan, dan haru.


Di pagi hari, para wisudawan mengenakan toga dan topi wisuda mereka dengan penuh semangat. Saat acara dimulai, suasana menjadi khidmat. Setelah acara resmi selesai, suasana menjadi lebih santai dan penuh kegembiraan. Wisudawan dan keluarga mereka berfoto bersama, mengabadikan momen berharga ini.


“Kak, selamat ya atas kelulusannya! Semoga apa yang diimpikan tercapai,” ucap Aurora, memberikan buket bunga kepada kakaknya. Luna membalas dengan senyuman. “Ayo, Kak, kita foto!” ajak Aurora sambil merangkul kakaknya. Setelah menghabiskan waktu di sekolah, mereka pun beranjak pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Luna dan Aurora berganti pakaian agar nyaman dan kembali bersantai.


Mereka berbaring di sofa lembut. “Selene pindah sekolah, Dek,” ucap Luna lemas. “Tanpa mengucapkan satu kata pun?” tanya Aurora, merasa dikhianati. “Iya,” jawab Luna, mengangguk. “Kakak diterima di universitas, Dek,” ucap Luna, memberitahu adiknya. “Wah! Bagus dong, Kak! Selamat ya!” ucap Aurora dengan penuh kegembiraan. “Tapi kok Kakak gak seneng yah?” lanjutnya.


“Kakak diterima di Universitas Mysthaven,” ucap Luna. Aurora terbangun dari sofa dan memandangi wajah kakaknya. “Ada kemungkinan Mamah di sana, kak?” tanya Aurora. “Aku mengkhawatirkan keselamatan Kakak,” lanjut Aurora sedih dan cemas.


“Kamu aman di sini, Dek. Karena ini rumah kita,” jawab Luna, menyarankan adiknya agar tetap tinggal di sini. “Yang Kakak khawatirkan adalah keselamatan Mamah, Dek. Aku takut Mamah kenapa-napa,” lanjut Luna, menahan tangisnya.

Komentar

  1. Ada bagian yg kurang, tapi tidak apa² saya tetap suka jalan ceritanya. Saya lgsg lanjut part 2.

    BalasHapus

Posting Komentar

Berikan Pesan Positif Anda :)

Postingan populer dari blog ini

Pembentukkan Karakter Anak Sebelum Terjun ke Dunia Pendidikan yang Sebenarnya

     KETIKA  AYAH IBU TELAH MENGERTI PERANNYA MASING-MASING!     Pendidikan berawal dari kita ketika didalam kandungan. Ibu kita membaca cerita dongeng, bernyanyi dengan riang, mengajarkan cara kita berdoa'a, dan Ayah kita mengajarkan cara berbicara yang baik. Saat kita hadir di dunia ini, kita diberikan pelukan pertama oleh ibu kita yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya hidup dan mati untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saat kita menangis ketika baru lahir disitulah peran pendidik ibu dimulai,  dan kita lihat secara nyata.       Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun tak luput jua seorang Ayah sebagai pemegang kurikulum dan fasilitator untuk berjalanya pendidikan non formal bagi anak ketika berada dirumah. Ketika, ibu mengajarkan kata perkata huruf, susunan angka, bahkan mengajarkan agama kepada anak-anaknya di usia dini, itu berdampak besar bagi mereka pada saat mereka masuk ke dunia pendidikan formal ya...

SUDUT BUNTU

  APA YANG KALIAN KETAHUI TENTANG PERANG ABSTRAK? Disudutkan dengan sesuatu yang mengganggu jalan fikir kita bahkan bisa menjadi ancaman seluruh manusia. Kabar itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkan orang personal. Diakibatkan, karena kelalaian kita dalam mengawasi gerak-gerik musuh. Terlalu lama kita berdiam diri dan berleha-leha dalam kehidupan yang megah. Sampai pada di titik, membangunkan adrenalin kita yang berimbas kepada gerakan-gerakan perlindungan.  Langkah pertama, yang terbesit difikiran kita pastilah bagaimana melindungi keluarga kita dari serangan musuh. yang padahal banyak nyawa yang harus di selamatkan. Ketar-ketir mencari benteng perlindungan agar bisa menjadi tombak yang menghancurkan. Tetapi, tetap saja musuh ada didepan mata. Percakapan dan kesepakatan adalah langkah awal untuk mencegah pertengkaran. Yang pada akhirnya menyetopkan pengiriman barang kepada pihak lawan yang sedang berseteru. Pihak lawan pun menjadi ketar-ketir karena bagaimana bisa ra...

STOP MENJADI ALAT PRAKTIK SUATU LEMBAGA

         BAGAIMANA CARA MENGETAHUI BONEKA BERJALAN? Mengatasnamakan rasa juga enggan melupa semua kejadian yang begitu memprihatinkan seperti sengaja dihilangkan atau dilupakan masyarakat. Duka dan perih masih dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Dengan kekuasaan yang kini kau pegang sudah bisa membangun bahkan melenyapkan orang. Pantas saja orang sepertimu melakukan hal seperti itu, karena hati dan mata mu sudah tertutup. Roh yang dibalut dengan jiwa disebut manusia, hati dan fikiran semestinya yang menjalankan. Tetapi, kamu bersikap seolah dikendalikan. Yaps, benar. Kamu adalah boneka nya. Dia adalah pemiliknya. Atau bisa disebut juga kamu adalah wayangnya sedangkan mereka adalah dalangnya. Sulit memang menjangkau fikiran orang dewasa, tetapi sangat mudah membaca tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal konyol apa yang semestinya tidak ditampakan oleh orang dewasa. Bersikap bijaksana namun ingkar dengan sifat bijaksana bahkan jauh melampa...