Langsung ke konten utama

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 2

 



PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 2

Oleh : Malika Defani Fajrin




Dua bulan kemudian...

 

Luna sedang berkemas memasukkan bajunya ke dalam koper, dan Aurora membantu kakaknya merapikan peralatan mandinya. “Harus secepat ini, Kak?” tanya Aurora. “Iya, Dek, lebih cepat lebih baik. Kakak bisa mencari Mama,” jawab Luna sambil melipat bajunya. “Kakak nanti tinggal di mana?” tanya Aurora lagi. “Ada apartemen kosong tempat Papa bekerja dulu, Dek. Kakak sudah menghubungi teman Papa beberapa hari lalu untuk minta digunakan lagi,” jawab Luna, menenangkan perasaan cemas adiknya.

 

Pada siang hari, matahari bersinar terang di langit biru tanpa awan, menciptakan suasana yang hangat dan cerah.

 

Luna, mengenakan pakaian kasual dan membawa koper besar serta tas selempang di bahunya, berjalan menuju halte bus. Wajahnya tampak bersemangat dan penuh antusiasme, Aurora menemani perjalanan kakaknya.

 

Ketika bus akhirnya tiba, mereka saling berpelukan erat. Air mata mereka berjatuhan karena kepergian Luna bukanlah waktu yang singkat, tetapi waktu yang tidak bisa diprediksi kapan berakhirnya.

 

Aurora menggenggam tangan kakaknya dan memberikan sesuatu. “Ini kalung, Kak, untuk Mama. Tolong berikan ke Mama, Kak. Aku berdoa supaya Mama bisa ketemu, dan Kakak dalam keselamatan Tuhan. Ini adalah hadiah untuk ulang tahun Mama bulan depan.”

 

Luna menggenggam tangan Aurora sangat erat dan menguatkannya. “Makasih, Dek. Kakak yakin Mama bisa ketemu. Semangat, Dek. Saat ini, kita cuma bisa saling menjaga dan bertahan. Tolong bertahan sedikit lagi ya, Dek!” ucap Luna, membangkitkan semangat Aurora.

 

Suara klakson bus terus berbunyi memanggil nama mereka untuk segera masuk. Mereka mengakhiri perpisahan mereka, dan Luna melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bus dengan hati-hati.

 

Luna mencari tempat duduk yang nyaman di dekat jendela dan melambaikan tangan kepada Aurora dengan senyum tangisnya. Aurora membalas lambaian kakaknya sambil berlinang air mata.

 

Beberapa jam kemudian...


Di tengah kota yang sibuk dan ramai, suasana penuh dengan hiruk-pikuk aktivitas. Gedung-gedung tinggi menjulang, dan jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak tanpa henti. Suara klakson mobil, deru mesin, dan percakapan orang-orang yang berlalu-lalang menciptakan simfoni khas perkotaan. Pedagang kaki lima menjajakan dagangannya di trotoar, sementara pejalan kaki bergegas menuju tujuan masing-masing.

Seorang gadis baru saja tiba di halte bus, yaitu Luna. Ia melangkahkan kaki keluar dari bus, menghirup udara kota yang penuh dengan berbagai aroma, dari makanan jalanan hingga asap kendaraan.

Di sekelilingnya, orang-orang sibuk dengan aktivitas mereka. Beberapa sedang menikmati kopi dan senda gurau di warung kopi pinggir jalan.

“Neng, mahasiswa ya?” tanya seorang bapak yang sedang menongkrong di warung kopi. “Iya Pak,” jawab Luna dengan anggukan kepala yang sopan. “Hati-hati, Neng, banyak copet!” lanjut bapak itu. “Iya Pak, terima kasih,” lanjut Luna, menyudahi obrolannya. Luna melihat sekeliling, mencari arah yang harus ia tuju. Dengan langkah pasti, dia mulai berjalan, menyusuri trotoar yang ramai, melewati toko-toko dan kafe yang dipenuhi pelanggan.

Luna sesekali berhenti untuk bertanya arah kepada penduduk setempat, yang dengan ramah mereka memberikan petunjuk. Meskipun sempit, gang-gang ini memiliki pesona tersendiri. Tanaman hijau yang ditanam oleh warga memberikan sentuhan alam di tengah kepadatan kota. Luna akhirnya menemukan Apartemen yang ia cari, sebuah bangunan tua dengan pintu berwarna cerah.                       

Luna melihat-lihat lagi lembaran yang diberikan teman Ayahnya, memastikan apakah alamatnya sudah benar. Tidak mungkin salah, ini adalah alamat yang benar! "Apakah benar ini tempat tinggal Ayah bekerja dulu?" ucap Luna dengan ragu.

Luna mengetok pintu berwarna merah. “Permisi. Apakah ada orang di dalam?” tanya Luna sambil mengetok pintu. Seorang wanita paruh baya dengan rambut panjang terurai keluar dari pintu yang sudah tua.

“Ya?” tanya wanita tua itu kepada Luna.

“Saya sedang mencari pemilik apartemen ini, apakah bisa saya temui?” jawab Luna sopan.

Wanita itu mengeluarkan seluruh badannya dari balik pintu. “Ya, saya sendiri. Ada perlu apa?” jawab wanita paruh baya itu penuh teka-teki.

“Oh, syukurlah. Saya pikir harus berjalan lagi untuk mencari pemilik apartemen ini,” jawab Luna dengan senyum lega.

Wanita itu mempersilakan Luna masuk ke dalam apartemennya. “Silakan masuk,” ucap wanita tua itu sambil membuka lebar pintunya. Luna masuk perlahan dan tersenyum. “Terima kasih, Bu.”

Luna duduk di sofa lembut, memandangi foto-foto yang terpasang di dinding rumah wanita ini. Fakta mengejutkannya adalah wanita ini tidak tinggal sendiri. Ia mempunyai seorang anak laki-laki dan perempuan, dan suaminya adalah seorang abdi negara.

Wanita itu baru saja datang dari dapur sambil membawa secangkir teh dan biskuit di piring cantiknya. “Silakan dinikmati hidangannya,” ucapnya. Luna menyeruput teh mint-nya dan berkata, “Wah, enak sekali, Bu! Terima kasih, Bu!”

Luna melanjutkan obrolan yang sempat tertunda. “Sebelumnya, perkenalkan Bu. Nama saya Luna. Kedatangan saya ke sini adalah untuk kuliah dan akan tinggal di apartemen milik Ibu. Ayah saya, Arjuna, adalah pekerja lepas di laboratorium kota ini. Temannya yang menghubungkan saya ke sini, namanya Pak Rama. Apakah Ibu pernah mendengar namanya?” tanya Luna, menyudahi perkenalan dirinya.

Wanita itu mencoba mengingat memori-memori kala itu. “Rama?” sambil memainkan dagunya. “Saya kenal dengan Rama. Dia membeli satu kamar apartemen ini untuk karyawannya tinggal di sini. Apakah itu ayah kamu, Arjuna? Saya sempat bertemu dengan keduanya. Mereka orang baik dan ramah. Oh iya, saya lupa memperkenalkan diri,” ucapnya.

“Perkenalkan, nama saya Sari. Panggil saja Ibu Sari, karena anak-anak apartemen ini menganggap saya sebagai ibu mereka. Apartemen ini peninggalan keluarga kami turun-temurun. Saya adalah warga asli penduduk lokal sini. Dari peletakan batu pertama oleh kakek buyut saya, saya terlahir di sini,” lanjutnya.

“Salam kenal, Ibu Sari. Pengalaman Anda sangat menakjubkan!” ucap Luna dengan anggukan sopan.

“Mari saya antar,” ucap Bu Sari, mengantarkan Luna ke kamarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembentukkan Karakter Anak Sebelum Terjun ke Dunia Pendidikan yang Sebenarnya

     KETIKA  AYAH IBU TELAH MENGERTI PERANNYA MASING-MASING!     Pendidikan berawal dari kita ketika didalam kandungan. Ibu kita membaca cerita dongeng, bernyanyi dengan riang, mengajarkan cara kita berdoa'a, dan Ayah kita mengajarkan cara berbicara yang baik. Saat kita hadir di dunia ini, kita diberikan pelukan pertama oleh ibu kita yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya hidup dan mati untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saat kita menangis ketika baru lahir disitulah peran pendidik ibu dimulai,  dan kita lihat secara nyata.       Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun tak luput jua seorang Ayah sebagai pemegang kurikulum dan fasilitator untuk berjalanya pendidikan non formal bagi anak ketika berada dirumah. Ketika, ibu mengajarkan kata perkata huruf, susunan angka, bahkan mengajarkan agama kepada anak-anaknya di usia dini, itu berdampak besar bagi mereka pada saat mereka masuk ke dunia pendidikan formal ya...

SUDUT BUNTU

  APA YANG KALIAN KETAHUI TENTANG PERANG ABSTRAK? Disudutkan dengan sesuatu yang mengganggu jalan fikir kita bahkan bisa menjadi ancaman seluruh manusia. Kabar itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkan orang personal. Diakibatkan, karena kelalaian kita dalam mengawasi gerak-gerik musuh. Terlalu lama kita berdiam diri dan berleha-leha dalam kehidupan yang megah. Sampai pada di titik, membangunkan adrenalin kita yang berimbas kepada gerakan-gerakan perlindungan.  Langkah pertama, yang terbesit difikiran kita pastilah bagaimana melindungi keluarga kita dari serangan musuh. yang padahal banyak nyawa yang harus di selamatkan. Ketar-ketir mencari benteng perlindungan agar bisa menjadi tombak yang menghancurkan. Tetapi, tetap saja musuh ada didepan mata. Percakapan dan kesepakatan adalah langkah awal untuk mencegah pertengkaran. Yang pada akhirnya menyetopkan pengiriman barang kepada pihak lawan yang sedang berseteru. Pihak lawan pun menjadi ketar-ketir karena bagaimana bisa ra...

STOP MENJADI ALAT PRAKTIK SUATU LEMBAGA

         BAGAIMANA CARA MENGETAHUI BONEKA BERJALAN? Mengatasnamakan rasa juga enggan melupa semua kejadian yang begitu memprihatinkan seperti sengaja dihilangkan atau dilupakan masyarakat. Duka dan perih masih dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Dengan kekuasaan yang kini kau pegang sudah bisa membangun bahkan melenyapkan orang. Pantas saja orang sepertimu melakukan hal seperti itu, karena hati dan mata mu sudah tertutup. Roh yang dibalut dengan jiwa disebut manusia, hati dan fikiran semestinya yang menjalankan. Tetapi, kamu bersikap seolah dikendalikan. Yaps, benar. Kamu adalah boneka nya. Dia adalah pemiliknya. Atau bisa disebut juga kamu adalah wayangnya sedangkan mereka adalah dalangnya. Sulit memang menjangkau fikiran orang dewasa, tetapi sangat mudah membaca tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal konyol apa yang semestinya tidak ditampakan oleh orang dewasa. Bersikap bijaksana namun ingkar dengan sifat bijaksana bahkan jauh melampa...