PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 3
Oleh : Malika Defani Fajrin
Luna
kembali ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang baru saja ia lihat. “Pak,
saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Seorang anak lelaki baru saja
diculik!” ucap Luna tergesa-gesa tanpa mengambil napas sedikitpun, dengan
dada berdebar.
“Silakan,
Adik duduk dulu. Ada apa?” kata petugas polisi yang sedang bertugas di
meja kursinya. Polisi terlihat tenang dan bersikap aneh. Luna menjelaskan
maksudnya dengan hati-hati dan pelan agar bisa dimengerti.
“Pak,
tadi, baru saja saya keluar dari kantor polisi ini mengajukan laporan bahwa
Mamah saya hilang. Lalu, saya berjalan pulang sambil menyebarkan brosur foto
milik Mamah saya. Seketika, saya melihat seorang anak lelaki yang sedang
diculik di sudut gang itu! Saya mencoba untuk mengejarnya, tapi ada laki-laki
dewasa lain yang mengejarnya. Saya takut membahayakan diri saya. Jadi, saya
melaporkan kepada Bapak sebagai pihak yang berwajib dan berwenang,” ucap Luna
menyudahi penjelasannya.
“Apakah
adik ada bukti?” tanya petugas kepolisian itu. Luna
kebingungan dan menggertak. “Tentu saja, saya tidak punya bukti! Saya
melaporkan atas dasar rasa kepedulian terhadap manusia. Pak, di sana ada
seorang anak lelaki yang sedang berlarian ketakutan. Mungkin saja, anak itu
sudah tertangkap, Pak! Di sisi lain juga, ada ibunya yang sedang mencarinya.
Bisakah bapak mencarinya sekarang?!” ucap Luna sambil berdiri mencengkeram
meja.
“Tetap
tidak bisa, Dik. Harus ada bukti,” ucap polisi itu dengan tenang dan
senyum lawasnya.
“Saya
kecewa, Pak! Saya benar-benar kecewa dengan bapak dan kepolisian ini. Bapak
menaruh citra buruk pada kepolisian! Bapak berhak dipecat!” ucap Luna
menantang petugas kepolisian itu. Petugas kepolisian itu memanggil keamanan
untuk mengusir Luna. Luna memberontak dan berkata, “Saya akan mengungkapkan
sisi gelap kepolisian ini! Dan juga kota Mysthaven!”
Tengah
malam pukul 02.00 dini hari, Luna dibangunkan oleh suara benturan itu lagi. Ia
memberanikan diri untuk keluar dan mengecek kamar sebelah. “Permisi.
Sekarang sudah tengah malam bahkan sebentar lagi pagi. Biarkan saya tidur
dengan tenang dan nyenyak,” ucap Luna sambil mengetok pintu kamar misterius
itu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Luna pergi meninggalkan pintu itu untuk
menuju kamarnya. Namun, suara berderik pintu terbuka mengagetkan Luna. Ia
berbalik badan secara perlahan.
“Siapa
kamu? Apa yang kau kerjakan di dalam? Bau apa ini?!” ucap Luna
dengan jantung berdebar sambil menutup hidungnya karena bau amis keluar dari
ruangan kamar itu. Sosok laki-laki berambut berantakan dan tidak tersisir itu
mengenakan baju yang sobek di antara dua bahunya. Warna bajunya persis seperti
yang ia lihat pada hari penculikan anak itu.
“APA YANG
KAU LAKUKAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK ITU! KAU MENCULIK ANAK ITU, KAN!
BIARKAN AKU MELIHAT KE DALAM!” Luna berteriak dan menangis, ia takut
hal yang ditakutkan terjadi pada anak itu. Suara Luna menggelegar ke seluruh
lorong apartemen ini. Pria itu langsung membungkam mulut Luna dengan kain yang
sudah diberi obat bius. Seketika Luna tidak sadarkan diri, dan keadaan menjadi
gelap gulita.
Luna
merasakan jari-jemarinya basah menyentuh dasar ruangan yang lembab dan juga
basah. Badannya terasa kaku dan lemas. Matanya perih melihat lampu yang
menyorotinya dari atas. Kedua tangan dan kakinya diikat, dan mulutnya masih
terbungkam dengan kain yang sudah diikat. Ia melihat sekelilingnya dan
menyadari ia sudah berada di dalam bunker ruang bawah tanah. Di mana ia berada?
Dari kejauhan terdengar suara samar-samar sekelompok manusia yang sedang
menangis kesakitan. Sepertinya mereka juga berada di dalam ruangan bawah tanah
ini. Luna kembali memejamkan mata, sepertinya obat biusnya sangat kuat. Dan ia
membutuhkan air untuk diminum sekarang.
Seseorang
membuka gembok ruangan bawah tanah tempat Luna berada. Ia memberikan air di
dalam ember yang terbuat dari stainless steel yang sudah penyok. “Minum
nih!” ucap laki-laki itu. “Sudah kubilang hati-hati! Kau sudah menjadi
target awal sebelum keberangkatanmu kemari!” ucap laki-laki besar itu
sambil meninggalkan ruangan Luna dan mengemboknya kembali. Luna masih terpejam
namun semua kata-kata lelaki itu terdengar jelas olehnya.
Keesokan
harinya...
Laki-laki
besar yang memberi minum kepada Luna kemarin, sedang berbicara di ruangan nomor
17 dengan tahanan wanita yang tidak lain adalah Mamahnya Luna. “Luna sudah
di sini,” bisiknya.
“Apakah
kau benar ingin membebaskan Luna?” ucap Mamah Luna dengan lemas tak
berdaya.
“Benar!
Jika aku bisa mendapatkan apa yang kumau!” kata lelaki itu dengan niat jahatnya.
“Apa ini
yang kau mau?” ucap Ibu Luna sambil menunjuk ke organ tubuh miliknya.
“Betul!
Seperti janji kita di awal. Sistem barter berjalan. Kau berikan ginjalmu. Ini,
dan itu. Aku akan pulangkan puterimu dengan selamat!” ucap
lelaki jahat itu, menunjuk organ Mamah Luna.
Di sisi
lain, di ruangan nomor 23 yang diberi tanggal sesuai hari kehilangannya, Luna
tersadar. Setelah beberapa jam tertidur, ia mengumpulkan tenaganya untuk bisa
beraksi dalam situasi ini. Namun, ia ingin minum terlebih dahulu. Tetapi,
tubuhnya masih dalam ikatan yang mematikan.
Luna tidak
menyerah. Ia berusaha untuk bangkit dan menemukan pinggiran semen bunker yang
tajam yang bisa memutuskan tali yang membelenggu dirinya. Setelah beberapa
saat, percobaannya berhasil. Ia menghabiskan air yang berada di ember secara
sekaligus tanpa berhenti. Dirinya sudah terbakar dengan rasa haus. Kini,
energinya sudah kembali ke tubuhnya
“TOLONG!
RUANGAN INI MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN!” Suara Luna menggema di seluruh ruangan
bawah tanahnya. Mamahnya mendengar suara Luna. “Lunaa…” ucapnya, sambil
berharap Luna lolos dari kekejaman ini.
Seorang
laki-laki besar datang menghampiri Luna. “Hei, jangan berisik!” ucapnya tegas
sambil memukul pintu besi itu dengan golok.
“Tolong,
saya sakit perut. Saya membutuhkan toilet!” ucap Luna dengan gaya kesakitannya.
“Kau pikir
aku bodoh! Itu adalah kebohongan besar!” ucap lelaki itu dengan amarah yang tak
terbendung.
“Tidak...
percayalah... saya merasa sakit dan putus asa! Tolong saya!” ucap Luna dengan
lemas tak berdaya.
“Baik. 10
menit!” ucap lelaki itu membuka ruangan Luna. Luna keluar dari ruangan bunker,
ia berjalan mengamati sekelilingnya. Ia mengatur strategi untuk lari dari
tempat itu dan menghafalkan rute dengan cepat.
“Cepat!”
ucap lelaki itu, mendorong Luna agar berjalan cepat.
“Boleh
bertanya?” tanya Luna kepada lelaki itu.
“Tidak,”
jawab lelaki itu.
“Kenapa
setiap ruangan ada nomor?” tanya Luna, penasaran.
“Tanggal
kehilangan,” jawab singkat lelaki itu.
“Apakah
orang yang membawa ku ke sini adalah orangmu juga?” tanya Luna, menganalisa.
“Sudah
kubilang jangan bertanya!” ucap lelaki itu marah sambil mendorong Luna hingga
terjatuh.
“Kau
kejam! Tapi, kau masih punya hati nurani,” ucap Luna sambil bangun dari
jatuhnya.
“Dari mana
kau tahu?” tanya lelaki itu.
“Dari cara
kau menjawab,” jawab Luna, sambil memasuki ruangan kamar mandi.
Luna
menutup pintu dengan rapat, namun lelaki itu menunggunya dari luar pintu. Luna
memikirkan perkataan lelaki tadi, yang menyebutkan bahwa nomor ruangan adalah
tanggal kehilangan.
“Mamahku
menghilang pada tanggal 17 Oktober 2023. Berarti ruangan Mamahku tak jauh dari
ruanganku. Hanya berjalan 2 blok. Dan anak lelaki yang kulihat tempo hari,
tanggal 21. Berarti hanya berjarak 1 blok dari ruanganku.”
Suara
ketukan pintu memecah lamunannya. “Cepat woy!” kata lelaki itu dengan
geram. Luna terus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini. Sekilas mata
Luna melihat sesuatu yang menyilaukan, yaitu kunci ruangan yang disembunyikan
di balik batu semen yang sudah berlobang.
“Bodohnya
mereka,” ucap Luna dengan senyum sumringah dan gaya liciknya.
Luna
keluar dari pintu kamar mandi. “Terima kasih,” ucap Luna kepada lelaki
itu.
Mereka
berdua kembali ke ruangan tempat Luna ditahan. “Dibayar berapa?” tanya
Luna dengan bingung.
“Maksud?” tanya
lelaki itu.
“Kau
pasti paham, tidak perlu kuperjelas,” jawab Luna dengan berani.
“Oke. Satu
ginjal 20 juta. Satu jantung 50 juta. Satu tubuh dengan organ lengkap 300
juta,” jawab lelaki itu dengan berani dan tegas.
“Murah...” kata Luna
dengan senyum setengah bibirnya.
Luna
menelan ludah, bersikap realistis dengan keadaannya sekarang. Dia ingin sekali
memberontak. Namun, bukan situasi yang tepat untuk menentang keras. Luna
mencoba bersikap tenang dan tidak takut dengan apa yang didengarnya.
Luna
melewati ruangan nomor 17 sambil melirik ke dalamnya. Tidak terlihat apa pun.
Ia juga melewati ruangan nomor 21 dan tidak melihat apa pun. Namun, ada suara
yang membuatnya kaget. Seorang anak yang sedang menangis kesakitan. Luna
langsung berlari menuju ruangan itu. Tetapi sayangnya, lelaki besar itu menahan
dirinya dan menyeretnya untuk masuk ke dalam ruangannya. “MASUK!” kata
lelaki itu dengan amarahnya.
3 hari
setelahnya…
Sekitar
pukul 3 dini hari, Luna membuka gembok dari lubang yang hanya muat dengan
tangannya. Setelah percobaan beberapa kali dan menyocokkan kunci dengan
gemboknya, ia berhasil melakukannya.
PINTU
RUANGAN 23 TERBUKA, itu adalah suara hati nurani Luna yang
sangat senang sekali dia bisa lolos. Tidak, bukan. Itu adalah alarm ruangan!
Luna tidak mengetahui bahwa ada kamera tersembunyi di dalam bunker ini.
PINTU
RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU
RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA.
Suara
alarm itu sangat berisik dan ramai. Seisi ruangan menjadi kacau dan tak
terkendali. Beberapa minta diselamatkan, dan beberapa hanya menitipkan pesan.
“TOLONGG
SAYA RUANGAN 24. SAYA RUANGAN 25. SAYA RUANGAN 18. SAYA RUANGAN 15. TITIPKAN
PESAN KEPADA ANAK SAYA. AKU ANAK KECIL YANG KAU PANGGIL ITU.”
Beberapa
ucapan itu membuat hati Luna sangat hancur dan ingin sekali menolong mereka.
Terutama anak kecil itu yang ingin sekali ia selamatkan. Namun, ia tidak punya
cukup waktu untuk menyelamatkan mereka. Luna hanya mempunyai waktu 5 menit
untuk menyelamatkan Mamahnya, sebelum semua petugas kembali bertugas dari
pelatihannya. Selama tiga hari, Luna mengamati kebiasaan petugas di tempat ini.
Setiap tiga hari sekali mereka semua pergi tanpa menyisakan satu petugas pun.
Luna
berlari menuju ruangan Mamahnya, nomor 17. Ia mengejar waktu untuk membuka
gembok ruangan milik Mamahnya. Ia berhasil membuka pintu ruangan itu. “Mamaaaah!!”
ucap Luna memeluk Mamahnya. Namun, tidak ada waktu untuk melepas rindu dan
menjelaskan semua yang terjadi.
Tanpa
pikir panjang, Luna berhasil membawa Mamahnya keluar dari ruangan tahanan itu. “Luna…”
ucap Mamahnya sangat lemas. Hari ini adalah hari di mana Mamahnya akan diotopsi
dan Luna akan pulang. Ia diberi obat bius yang sangat kuat. Tetapi, Luna tidak
putus semangat. Ia tetap membawa Mamahnya dengan sekuat tenaga.
“Kita
bersembunyi di sini dulu ya, Ma,” ucap Luna, mengajak Mamahnya
bersembunyi di dalam kamar mandi yang pernah ia datangi. Ketika semua petugas
menuju ruangan 23, saat itulah Luna membawa Mamahnya keluar berlawanan arah.
“Ayo,
Mah!” ucap Luna sambil merangkul Mamahnya keluar. Luna menyusuri setiap
lorong bunker dan menemukan cahaya putih yang merupakan langit di luar sana.
Ternyata tempat ini dulunya adalah sebuah pabrik pemotongan ayam dan sapi, yang
kemudian dibangun bunker bawah tanah untuk menyembunyikan manusia di dalamnya.
Otak di balik semua ini adalah iblis! Dalang di balik semua ini adalah hewan!
Tidak, bahkan hewan masih mempunyai rasa kemanusiaan.
Luna
mengantar Mamahnya ke apartemennya tempat ia tinggal, dan menitipkannya kepada
Ibu Sari, pemilik apartemen itu. Ibu Sari yang tampak kebingungan mengurungkan
niatnya untuk bertanya.
Luna
merasa lega, sebab Mamahnya berhasil diselamatkan olehnya. Namun, ia harus
menyelamatkan anak kecil itu dan yang lainnya juga. Luna harus pergi kembali
untuk mengungkap semua kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh pabrik tadi.
Luna yakin, kepolisian dan pejabat daerah turut serta dalam kebengisan ini.

Udh smpe part 4 aja? GK ada lagi?
BalasHapus