Langsung ke konten utama

Postingan

Blog Tentang Tulisan-Tulisan Keren Inspiratif dan Edukatif

Menjaga Rasa

  Menjaga Rasa Oleh : Malika Defani Fajrin     Pernah ku jaga rasa itu agar menjadi sebuah keyakinan yang meyakinkanku   Pernah ku juga, jaga dirinya agar menjadi diri yang sejati   Meski, pada akhirnya ku dikhianati oleh cinta yang membuat ku percaya akan hidup   Bukankah seru, jika hidup bersama dengan seseorang yang mengerti akan kita?   Bukan, memulai lagi dari awal itu hanya akan membuat mu lelah.   Mengapa memulai sesuatu yang baru? Padahal, sebelumnya pernah kau ciptakan seseorang yang spesial untuk dirimu, spesial   Apakah kau akan berdiam diri saja? Menerima keadaan tanpa usaha perubahan?   Meski begitu, pada akhirnya kau akan mengerti tidak ada yang sepertiku untuk menggantikan cinta mu yang sejati.
Postingan terbaru

PERNAHKAH KAMU MERASA INGIN BEBAS?

  PERNAHKAH KAMU MERASA INGIN BEBAS? Kamu terbang bebas  Kemana pun kamu mau sebagai alas Kamu tempuh semua jalan  Tetapi, apakah kamu punya tujuan?      Banyak dari kita yang mengerti bahwa hidup harus memiliki tujuan , agar hidup kita terarah sesuai harapan. Tetapi, kadangkala kita lupa bahkan mengabaikan tujuan yang telah kita buat.     Dengan dalih, lelah dengan apa yang telah direncakan, mengalami banyak hal luka dan duka datang silih berganti. Karena, kurangnya informasi dan motivasi menjadikan diri malas untuk bereksplorasi. Banyak oposisi yang melemahkan strategi berfikir kita untuk terus maju tanpa henti.     Tetapi, justru kita yang terombang-ambing dalam kegelapan. Sedikit nya pengalaman serta ketidakmauan mencoba dalam segala sesuatu membuat kenyamanan hidup yang menyesatkan.      Membuat kehidupan yang fana tanpa adanya makna menjadikan kehidupan seperti lembar kertas kosong tanpa isi. Maukah, anda menyesaliny...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 4

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 3 Oleh : Malika Defani Fajrin Luna kembali ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang baru saja ia lihat. “Pak, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Seorang anak lelaki baru saja diculik!” ucap Luna tergesa-gesa tanpa mengambil napas sedikitpun, dengan dada berdebar. “Silakan, Adik duduk dulu. Ada apa?” kata petugas polisi yang sedang bertugas di meja kursinya. Polisi terlihat tenang dan bersikap aneh. Luna menjelaskan maksudnya dengan hati-hati dan pelan agar bisa dimengerti. “Pak, tadi, baru saja saya keluar dari kantor polisi ini mengajukan laporan bahwa Mamah saya hilang. Lalu, saya berjalan pulang sambil menyebarkan brosur foto milik Mamah saya. Seketika, saya melihat seorang anak lelaki yang sedang diculik di sudut gang itu! Saya mencoba untuk mengejarnya, tapi ada laki-laki dewasa lain yang mengejarnya. Saya takut membahayakan diri saya. Jadi, saya melaporkan kepada Bapak sebagai pihak yang berwajib dan be...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 3

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 3 Oleh : Malika Defani Fajrin Lorong apartemen yang sudah usang tampak suram dan penuh dengan kenangan masa lalu. Dinding-dindingnya kusam dan retak, dengan cat yang mengelupas, memberikan kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan. Lampu-lampu redup yang tergantung di langit-langit berkelap-kelip, menciptakan bayangan yang bergerak di sepanjang lorong. Di tengah lorong, Luna berjalan dengan langkah hati-hati. Rambut panjangnya tergerai, dan matanya yang besar memandang sekeliling dengan rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan. Luna membuka pintu kamar apartemennya dan melangkah masuk. Kamar itu kecil namun nyaman, dengan dinding berwarna pastel dan perabotan sederhana namun fungsional. Sebuah jendela besar di satu sisi kamar membiarkan cahaya matahari masuk, menerangi seluruh ruangan dengan sinar hangat. Bu Sari berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut. Luna berbalik dan memandangnya dengan mata penuh rasa terima kasih. Mereka s...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 2

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 2 Oleh : Malika Defani Fajrin Dua bulan kemudian...   Luna sedang berkemas memasukkan bajunya ke dalam koper, dan Aurora membantu kakaknya merapikan peralatan mandinya.  “Harus secepat ini, Kak?”  tanya Aurora.  “Iya, Dek, lebih cepat lebih baik. Kakak bisa mencari Mama,”  jawab Luna sambil melipat bajunya.  “Kakak nanti tinggal di mana?”  tanya Aurora lagi.  “Ada apartemen kosong tempat Papa bekerja dulu, Dek. Kakak sudah menghubungi teman Papa beberapa hari lalu untuk minta digunakan lagi,”  jawab Luna, menenangkan perasaan cemas adiknya.   Pada siang hari, matahari bersinar terang di langit biru tanpa awan, menciptakan suasana yang hangat dan cerah.   Luna, mengenakan pakaian kasual dan membawa koper besar serta tas selempang di bahunya, berjalan menuju halte bus. Wajahnya tampak bersemangat dan penuh antusiasme, Aurora menemani perjalanan kakaknya.   Ketika bus akhirnya...

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 1

  PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  Oleh : Malika Defani Fajrin Pagi hari yang cerah, seorang gadis baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia meregangkan tubuhnya agar terasa nyaman di pagi hari. "Ahh... Mamaaa," panggilnya kepada mamanya yang sedang memasak sarapan untuk gadis itu. Kita panggil saja dengan sebutan Luna. Luna saat ini sedang duduk di bangku SMA dan sebentar lagi akan lulus ujian serta menempuh pendidikan lanjutannya. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri meja belajarnya yang sudah penuh dengan tempelan kertas di dinding-dinding kamarnya yang tidak lain adalah jadwal padatnya agar tidak lupa dan tertinggal. Ia mencoret sebuah tanggal di kalender. "Sekarang tanggal 17... coret... sebentar lagi aku lulus ujian!" Luna mencatat segala apapun secara detail dan cermat. "Kakak, ayo kita sarapan dulu sebelum kamu berangkat sekolah," ucap mamanya yang sudah selesai memasak sarapan. Luna menghampiri mamanya dan mencium pipinya. ...

O ALLAH, WHY ALWAYS ME? PART 2

“Aku terlempar beberapa kilometer, nyawaku tak tertolong. Di persimpangan jalan ini, aku menghembuskan napas terakhirku.” -Erlangga-   Aku, Dion, saksi atas peristiwa tragis teman sekamarku. Pada pukul 02.21 dini hari, Erlangga, teman sekamarku, ditemukan tergeletak di persimpangan jalan gang-gang kecil kota. Ada polisi yang membantu penyelidikan dan juga ambulans yang membawa jenazah temanku. Aku yang langsung kembali ke asrama pada malam hari itu di hutan, tidak tahu bahwa itu pertemuan terakhirku dengan Erlangga. Pagi hari pukul 09.40, polisi dan anggota lainnya mendatangi asramaku. Mereka ingin mencari tahu penyebab kematian temanku, Erlangga. Aku hanya bisa menatap mereka dari sudut kamar ini, sementara mereka mewawancarai kepala asramaku. Justru, mereka tidak tahu apa-apa. Akulah yang harus diwawancarai, bukan mereka. Di sudut lain, pelaku kejahatan sedang menyaksikan wawancara berlangsung. Aku geram melihatnya, tapi aku tidak bisa berkutik. Wajahnya biasa saja, tidak...