Langsung ke konten utama

PETUALANGAN BERMULA LUNA PART 4






 PETUALANGAN  BERMULA  LUNA  PART 3

Oleh : Malika Defani Fajrin



Luna kembali ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang baru saja ia lihat. “Pak, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Seorang anak lelaki baru saja diculik!” ucap Luna tergesa-gesa tanpa mengambil napas sedikitpun, dengan dada berdebar.

“Silakan, Adik duduk dulu. Ada apa?” kata petugas polisi yang sedang bertugas di meja kursinya. Polisi terlihat tenang dan bersikap aneh. Luna menjelaskan maksudnya dengan hati-hati dan pelan agar bisa dimengerti.

“Pak, tadi, baru saja saya keluar dari kantor polisi ini mengajukan laporan bahwa Mamah saya hilang. Lalu, saya berjalan pulang sambil menyebarkan brosur foto milik Mamah saya. Seketika, saya melihat seorang anak lelaki yang sedang diculik di sudut gang itu! Saya mencoba untuk mengejarnya, tapi ada laki-laki dewasa lain yang mengejarnya. Saya takut membahayakan diri saya. Jadi, saya melaporkan kepada Bapak sebagai pihak yang berwajib dan berwenang,” ucap Luna menyudahi penjelasannya.

“Apakah adik ada bukti?” tanya petugas kepolisian itu. Luna kebingungan dan menggertak. “Tentu saja, saya tidak punya bukti! Saya melaporkan atas dasar rasa kepedulian terhadap manusia. Pak, di sana ada seorang anak lelaki yang sedang berlarian ketakutan. Mungkin saja, anak itu sudah tertangkap, Pak! Di sisi lain juga, ada ibunya yang sedang mencarinya. Bisakah bapak mencarinya sekarang?!” ucap Luna sambil berdiri mencengkeram meja.

“Tetap tidak bisa, Dik. Harus ada bukti,” ucap polisi itu dengan tenang dan senyum lawasnya.

“Saya kecewa, Pak! Saya benar-benar kecewa dengan bapak dan kepolisian ini. Bapak menaruh citra buruk pada kepolisian! Bapak berhak dipecat!” ucap Luna menantang petugas kepolisian itu. Petugas kepolisian itu memanggil keamanan untuk mengusir Luna. Luna memberontak dan berkata, “Saya akan mengungkapkan sisi gelap kepolisian ini! Dan juga kota Mysthaven!”

Tengah malam pukul 02.00 dini hari, Luna dibangunkan oleh suara benturan itu lagi. Ia memberanikan diri untuk keluar dan mengecek kamar sebelah. “Permisi. Sekarang sudah tengah malam bahkan sebentar lagi pagi. Biarkan saya tidur dengan tenang dan nyenyak,” ucap Luna sambil mengetok pintu kamar misterius itu. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Luna pergi meninggalkan pintu itu untuk menuju kamarnya. Namun, suara berderik pintu terbuka mengagetkan Luna. Ia berbalik badan secara perlahan.

“Siapa kamu? Apa yang kau kerjakan di dalam? Bau apa ini?!” ucap Luna dengan jantung berdebar sambil menutup hidungnya karena bau amis keluar dari ruangan kamar itu. Sosok laki-laki berambut berantakan dan tidak tersisir itu mengenakan baju yang sobek di antara dua bahunya. Warna bajunya persis seperti yang ia lihat pada hari penculikan anak itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK ITU! KAU MENCULIK ANAK ITU, KAN! BIARKAN AKU MELIHAT KE DALAM!” Luna berteriak dan menangis, ia takut hal yang ditakutkan terjadi pada anak itu. Suara Luna menggelegar ke seluruh lorong apartemen ini. Pria itu langsung membungkam mulut Luna dengan kain yang sudah diberi obat bius. Seketika Luna tidak sadarkan diri, dan keadaan menjadi gelap gulita.

Luna merasakan jari-jemarinya basah menyentuh dasar ruangan yang lembab dan juga basah. Badannya terasa kaku dan lemas. Matanya perih melihat lampu yang menyorotinya dari atas. Kedua tangan dan kakinya diikat, dan mulutnya masih terbungkam dengan kain yang sudah diikat. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari ia sudah berada di dalam bunker ruang bawah tanah. Di mana ia berada? Dari kejauhan terdengar suara samar-samar sekelompok manusia yang sedang menangis kesakitan. Sepertinya mereka juga berada di dalam ruangan bawah tanah ini. Luna kembali memejamkan mata, sepertinya obat biusnya sangat kuat. Dan ia membutuhkan air untuk diminum sekarang.

Seseorang membuka gembok ruangan bawah tanah tempat Luna berada. Ia memberikan air di dalam ember yang terbuat dari stainless steel yang sudah penyok. “Minum nih!” ucap laki-laki itu. “Sudah kubilang hati-hati! Kau sudah menjadi target awal sebelum keberangkatanmu kemari!” ucap laki-laki besar itu sambil meninggalkan ruangan Luna dan mengemboknya kembali. Luna masih terpejam namun semua kata-kata lelaki itu terdengar jelas olehnya.

Keesokan harinya...

Laki-laki besar yang memberi minum kepada Luna kemarin, sedang berbicara di ruangan nomor 17 dengan tahanan wanita yang tidak lain adalah Mamahnya Luna. “Luna sudah di sini,” bisiknya.

“Apakah kau benar ingin membebaskan Luna?” ucap Mamah Luna dengan lemas tak berdaya.

“Benar! Jika aku bisa mendapatkan apa yang kumau!” kata lelaki itu dengan niat jahatnya.

“Apa ini yang kau mau?” ucap Ibu Luna sambil menunjuk ke organ tubuh miliknya.

“Betul! Seperti janji kita di awal. Sistem barter berjalan. Kau berikan ginjalmu. Ini, dan itu. Aku akan pulangkan puterimu dengan selamat!” ucap lelaki jahat itu, menunjuk organ Mamah Luna.

Di sisi lain, di ruangan nomor 23 yang diberi tanggal sesuai hari kehilangannya, Luna tersadar. Setelah beberapa jam tertidur, ia mengumpulkan tenaganya untuk bisa beraksi dalam situasi ini. Namun, ia ingin minum terlebih dahulu. Tetapi, tubuhnya masih dalam ikatan yang mematikan.

Luna tidak menyerah. Ia berusaha untuk bangkit dan menemukan pinggiran semen bunker yang tajam yang bisa memutuskan tali yang membelenggu dirinya. Setelah beberapa saat, percobaannya berhasil. Ia menghabiskan air yang berada di ember secara sekaligus tanpa berhenti. Dirinya sudah terbakar dengan rasa haus. Kini, energinya sudah kembali ke tubuhnya

“TOLONG! RUANGAN INI MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN!” Suara Luna menggema di seluruh ruangan bawah tanahnya. Mamahnya mendengar suara Luna. “Lunaa…” ucapnya, sambil berharap Luna lolos dari kekejaman ini.

Seorang laki-laki besar datang menghampiri Luna. “Hei, jangan berisik!” ucapnya tegas sambil memukul pintu besi itu dengan golok.

“Tolong, saya sakit perut. Saya membutuhkan toilet!” ucap Luna dengan gaya kesakitannya.

“Kau pikir aku bodoh! Itu adalah kebohongan besar!” ucap lelaki itu dengan amarah yang tak terbendung.

“Tidak... percayalah... saya merasa sakit dan putus asa! Tolong saya!” ucap Luna dengan lemas tak berdaya.

“Baik. 10 menit!” ucap lelaki itu membuka ruangan Luna. Luna keluar dari ruangan bunker, ia berjalan mengamati sekelilingnya. Ia mengatur strategi untuk lari dari tempat itu dan menghafalkan rute dengan cepat.

“Cepat!” ucap lelaki itu, mendorong Luna agar berjalan cepat.

“Boleh bertanya?” tanya Luna kepada lelaki itu.

“Tidak,” jawab lelaki itu.

“Kenapa setiap ruangan ada nomor?” tanya Luna, penasaran.

“Tanggal kehilangan,” jawab singkat lelaki itu.

“Apakah orang yang membawa ku ke sini adalah orangmu juga?” tanya Luna, menganalisa.

“Sudah kubilang jangan bertanya!” ucap lelaki itu marah sambil mendorong Luna hingga terjatuh.

“Kau kejam! Tapi, kau masih punya hati nurani,” ucap Luna sambil bangun dari jatuhnya.

“Dari mana kau tahu?” tanya lelaki itu.

“Dari cara kau menjawab,” jawab Luna, sambil memasuki ruangan kamar mandi.

Luna menutup pintu dengan rapat, namun lelaki itu menunggunya dari luar pintu. Luna memikirkan perkataan lelaki tadi, yang menyebutkan bahwa nomor ruangan adalah tanggal kehilangan.

Mamahku menghilang pada tanggal 17 Oktober 2023. Berarti ruangan Mamahku tak jauh dari ruanganku. Hanya berjalan 2 blok. Dan anak lelaki yang kulihat tempo hari, tanggal 21. Berarti hanya berjarak 1 blok dari ruanganku.”

Suara ketukan pintu memecah lamunannya. “Cepat woy!” kata lelaki itu dengan geram. Luna terus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini. Sekilas mata Luna melihat sesuatu yang menyilaukan, yaitu kunci ruangan yang disembunyikan di balik batu semen yang sudah berlobang.

“Bodohnya mereka,” ucap Luna dengan senyum sumringah dan gaya liciknya.

Luna keluar dari pintu kamar mandi. “Terima kasih,” ucap Luna kepada lelaki itu.

Mereka berdua kembali ke ruangan tempat Luna ditahan. “Dibayar berapa?” tanya Luna dengan bingung.

“Maksud?” tanya lelaki itu.

Kau pasti paham, tidak perlu kuperjelas,” jawab Luna dengan berani.

“Oke. Satu ginjal 20 juta. Satu jantung 50 juta. Satu tubuh dengan organ lengkap 300 juta,” jawab lelaki itu dengan berani dan tegas.

“Murah...” kata Luna dengan senyum setengah bibirnya.

Luna menelan ludah, bersikap realistis dengan keadaannya sekarang. Dia ingin sekali memberontak. Namun, bukan situasi yang tepat untuk menentang keras. Luna mencoba bersikap tenang dan tidak takut dengan apa yang didengarnya.

Luna melewati ruangan nomor 17 sambil melirik ke dalamnya. Tidak terlihat apa pun. Ia juga melewati ruangan nomor 21 dan tidak melihat apa pun. Namun, ada suara yang membuatnya kaget. Seorang anak yang sedang menangis kesakitan. Luna langsung berlari menuju ruangan itu. Tetapi sayangnya, lelaki besar itu menahan dirinya dan menyeretnya untuk masuk ke dalam ruangannya. “MASUK!” kata lelaki itu dengan amarahnya.

3 hari setelahnya…

Sekitar pukul 3 dini hari, Luna membuka gembok dari lubang yang hanya muat dengan tangannya. Setelah percobaan beberapa kali dan menyocokkan kunci dengan gemboknya, ia berhasil melakukannya.

PINTU RUANGAN 23 TERBUKA, itu adalah suara hati nurani Luna yang sangat senang sekali dia bisa lolos. Tidak, bukan. Itu adalah alarm ruangan! Luna tidak mengetahui bahwa ada kamera tersembunyi di dalam bunker ini.

PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA. PINTU RUANGAN 23 TERBUKA.

Suara alarm itu sangat berisik dan ramai. Seisi ruangan menjadi kacau dan tak terkendali. Beberapa minta diselamatkan, dan beberapa hanya menitipkan pesan.

“TOLONGG SAYA RUANGAN 24. SAYA RUANGAN 25. SAYA RUANGAN 18. SAYA RUANGAN 15. TITIPKAN PESAN KEPADA ANAK SAYA. AKU ANAK KECIL YANG KAU PANGGIL ITU.”

Beberapa ucapan itu membuat hati Luna sangat hancur dan ingin sekali menolong mereka. Terutama anak kecil itu yang ingin sekali ia selamatkan. Namun, ia tidak punya cukup waktu untuk menyelamatkan mereka. Luna hanya mempunyai waktu 5 menit untuk menyelamatkan Mamahnya, sebelum semua petugas kembali bertugas dari pelatihannya. Selama tiga hari, Luna mengamati kebiasaan petugas di tempat ini. Setiap tiga hari sekali mereka semua pergi tanpa menyisakan satu petugas pun.

Luna berlari menuju ruangan Mamahnya, nomor 17. Ia mengejar waktu untuk membuka gembok ruangan milik Mamahnya. Ia berhasil membuka pintu ruangan itu. “Mamaaaah!!” ucap Luna memeluk Mamahnya. Namun, tidak ada waktu untuk melepas rindu dan menjelaskan semua yang terjadi.

Tanpa pikir panjang, Luna berhasil membawa Mamahnya keluar dari ruangan tahanan itu. “Luna…” ucap Mamahnya sangat lemas. Hari ini adalah hari di mana Mamahnya akan diotopsi dan Luna akan pulang. Ia diberi obat bius yang sangat kuat. Tetapi, Luna tidak putus semangat. Ia tetap membawa Mamahnya dengan sekuat tenaga.

“Kita bersembunyi di sini dulu ya, Ma,” ucap Luna, mengajak Mamahnya bersembunyi di dalam kamar mandi yang pernah ia datangi. Ketika semua petugas menuju ruangan 23, saat itulah Luna membawa Mamahnya keluar berlawanan arah.

“Ayo, Mah!” ucap Luna sambil merangkul Mamahnya keluar. Luna menyusuri setiap lorong bunker dan menemukan cahaya putih yang merupakan langit di luar sana. Ternyata tempat ini dulunya adalah sebuah pabrik pemotongan ayam dan sapi, yang kemudian dibangun bunker bawah tanah untuk menyembunyikan manusia di dalamnya. Otak di balik semua ini adalah iblis! Dalang di balik semua ini adalah hewan! Tidak, bahkan hewan masih mempunyai rasa kemanusiaan.

Luna mengantar Mamahnya ke apartemennya tempat ia tinggal, dan menitipkannya kepada Ibu Sari, pemilik apartemen itu. Ibu Sari yang tampak kebingungan mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Luna merasa lega, sebab Mamahnya berhasil diselamatkan olehnya. Namun, ia harus menyelamatkan anak kecil itu dan yang lainnya juga. Luna harus pergi kembali untuk mengungkap semua kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh pabrik tadi. Luna yakin, kepolisian dan pejabat daerah turut serta dalam kebengisan ini.


Komentar

Posting Komentar

Berikan Pesan Positif Anda :)

Postingan populer dari blog ini

Pembentukkan Karakter Anak Sebelum Terjun ke Dunia Pendidikan yang Sebenarnya

     KETIKA  AYAH IBU TELAH MENGERTI PERANNYA MASING-MASING!     Pendidikan berawal dari kita ketika didalam kandungan. Ibu kita membaca cerita dongeng, bernyanyi dengan riang, mengajarkan cara kita berdoa'a, dan Ayah kita mengajarkan cara berbicara yang baik. Saat kita hadir di dunia ini, kita diberikan pelukan pertama oleh ibu kita yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya hidup dan mati untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saat kita menangis ketika baru lahir disitulah peran pendidik ibu dimulai,  dan kita lihat secara nyata.       Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun tak luput jua seorang Ayah sebagai pemegang kurikulum dan fasilitator untuk berjalanya pendidikan non formal bagi anak ketika berada dirumah. Ketika, ibu mengajarkan kata perkata huruf, susunan angka, bahkan mengajarkan agama kepada anak-anaknya di usia dini, itu berdampak besar bagi mereka pada saat mereka masuk ke dunia pendidikan formal ya...

SUDUT BUNTU

  APA YANG KALIAN KETAHUI TENTANG PERANG ABSTRAK? Disudutkan dengan sesuatu yang mengganggu jalan fikir kita bahkan bisa menjadi ancaman seluruh manusia. Kabar itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkan orang personal. Diakibatkan, karena kelalaian kita dalam mengawasi gerak-gerik musuh. Terlalu lama kita berdiam diri dan berleha-leha dalam kehidupan yang megah. Sampai pada di titik, membangunkan adrenalin kita yang berimbas kepada gerakan-gerakan perlindungan.  Langkah pertama, yang terbesit difikiran kita pastilah bagaimana melindungi keluarga kita dari serangan musuh. yang padahal banyak nyawa yang harus di selamatkan. Ketar-ketir mencari benteng perlindungan agar bisa menjadi tombak yang menghancurkan. Tetapi, tetap saja musuh ada didepan mata. Percakapan dan kesepakatan adalah langkah awal untuk mencegah pertengkaran. Yang pada akhirnya menyetopkan pengiriman barang kepada pihak lawan yang sedang berseteru. Pihak lawan pun menjadi ketar-ketir karena bagaimana bisa ra...

STOP MENJADI ALAT PRAKTIK SUATU LEMBAGA

         BAGAIMANA CARA MENGETAHUI BONEKA BERJALAN? Mengatasnamakan rasa juga enggan melupa semua kejadian yang begitu memprihatinkan seperti sengaja dihilangkan atau dilupakan masyarakat. Duka dan perih masih dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Dengan kekuasaan yang kini kau pegang sudah bisa membangun bahkan melenyapkan orang. Pantas saja orang sepertimu melakukan hal seperti itu, karena hati dan mata mu sudah tertutup. Roh yang dibalut dengan jiwa disebut manusia, hati dan fikiran semestinya yang menjalankan. Tetapi, kamu bersikap seolah dikendalikan. Yaps, benar. Kamu adalah boneka nya. Dia adalah pemiliknya. Atau bisa disebut juga kamu adalah wayangnya sedangkan mereka adalah dalangnya. Sulit memang menjangkau fikiran orang dewasa, tetapi sangat mudah membaca tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal konyol apa yang semestinya tidak ditampakan oleh orang dewasa. Bersikap bijaksana namun ingkar dengan sifat bijaksana bahkan jauh melampa...