O
Allah, Why? Always Me?
Oleh
: Malika Defani Fajrin
Aku,
Erlangga, berlari di bawah cahaya gelap rembulan, menyusuri gang-gang sempit di
tengah kota. Nafasku tersengal-sengal, dikejar oleh sosok manusia yang
menikmati penderitaanku. Mereka tidak peduli dengan kehidupan sosial atau
perlindungan terhadap sesama. Yang ada di pikiran mereka hanyalah cara baru
untuk menyiksaku.
Dengan
segenap kekuatan, aku berhasil meloloskan diri dari ikatan tali tambang yang
membelenggu tangan dan kakiku. Teman asrama, seorang sahabat setia, menyelipkan
pisau kecil ke tanganku. Dia tidak bisa membantuku secara langsung karena takut
ketahuan oleh para penyiksa itu. Namun, keberaniannya memberiku harapan.
Pada
tahun pertama di asrama, aku menjalani tugas-tugas kecil hingga besar tanpa
menyadari bahwa orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungku adalah ancaman
terbesar.
Tahun
kedua, mereka mulai berani menyentuhku, menginjak, memukul, dan menendang. Aku
menangis dan ketakutan, bingung apakah harus melaporkan ini kepada pengurus
atau orang tuaku. Ketakutan akan balas dendam mereka membuatku bungkam.
Tahun
ketiga, penderitaanku semakin berat. Hidupku berada di ambang keputusasaan.
Mereka yang seharusnya melindungi, justru terus melukai. Akhirnya, aku
memberanikan diri untuk bercerita kepada kedua orang tuaku, berharap mereka
tidak melaporkannya kepada pengawas asrama. Aku takut, namun aku tahu ini
adalah langkah pertama menuju kebebasan.
Pada
malam hari, pukul 22.10, aku dibawa ke belakang asrama oleh senior-seniorku.
Mata ditutup, kedua tangan dan kaki diikat erat. Aku tidak bisa melihat apa pun
di sekitarku, namun jari jemariku merasakan dedaunan basah yang menandakan
bahwa kami berada di hutan belakang sekolah.
Mereka
menyeretku ke dalam kegelapan hutan, tujuan mereka masih menjadi misteri.
Badanku gemetar hebat, kaku karena ketakutan. Nafasku terengah-engah, jantungku
berdetak kencang seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Kegelapan
menyelimuti diriku, membuatku merasa terjebak dalam mimpi buruk yang tak
berujung. Aku berteriak dalam hati, “YA ALLAH, KENAPA SELALU AKU??!”
Tiba-tiba,
pukulan keras menghantam kepalaku. Kayu tebal yang mereka gunakan membuat rasa
sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Aku meringis kesakitan, air mata mengalir
tanpa henti. Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkanku sendirian di hutan.
Aku bisa mendengar langkah kaki mereka menjauh, mungkin untuk mengambil sesuatu
yang lebih mengerikan.
Dalam
keheningan yang mencekam, aku mendengar suara langkah kaki mendekat, menyapu
dedaunan di sekitarnya. “Hey… Hey… Sssttt,” suara seorang anak laki-laki
terdengar pelan.
“Jangan…
Stopp… Ampun…” aku memohon dengan bibir gemetar,
ketakutan setengah mati.
“Tenang…
Ini aku, teman sekamarmu, Dion,” ucap anak itu. “Ambillah,
aku tidak bisa lama-lama di sini. Mereka akan segera kembali. Cepatlah!”
lanjutnya dengan nada tergesa-gesa.
“Apa
ini? Sebuah pisau?” tanyaku, namun Dion sudah lebih dulu
pergi meninggalkanku.
Dengan
tangan gemetar, aku segera memotong tali yang mengikat tanganku. Mata masih
tertutup, membuat setiap gerakan terasa lebih sulit. Tangan tergores oleh
pisau, namun aku terus berusaha. Akhirnya, ikatan tangan terlepas. Aku membuka
penutup mata dan segera memotong tali di kaki.
Suara
mereka semakin mendekat. Aku berlari secepat mungkin menuju utara, tempat di
mana kota berada. Nafasku semakin berat, keringat bercucuran di setiap inci
kulitku. Mereka terus mengejarku, apa yang mereka inginkan dariku? Aku hanyalah
seorang pelajar yang sedang mencari ilmu.
Aku
berhasil memasuki kota, berlari melalui gang-gang kecil yang gelap. Hanya ada
lampu di setiap sudut gang dan cahaya bulan purnama yang menyinari langkah
kakiku. Keringat bercucuran, napasku tersengal-sengal. Aku berhasil melintasi
gang-gang kecil ini, namun tiba-tiba cahaya terang menyelimuti diriku. Bukan
lampu, bukan juga bulan, tapi cahaya mobil dari arah kanan. Aku tertabrak, dan
dunia seketika menjadi gelap.
Aku
terlempar beberapa meter, nyawaku tak tertolong. Di persimpangan jalan ini, aku
menghembuskan napas terakhirku.

Wauu!! Keren kak! 😎 beneran langsung dibikinin! Dijadiin novel seru nih kak 😍
BalasHapusTerlalu sedih gak sih ceritanya 😭😢😵😷
HapusBikinin versi pelaku kak
Hapus