Langsung ke konten utama

O ALLAH, WHY ALWAYS ME? PART 1

    

O ALLAH, WHY? ALWAYS ME?




    

 

O Allah, Why? Always Me?

Oleh : Malika Defani Fajrin

 



Aku, Erlangga, berlari di bawah cahaya gelap rembulan, menyusuri gang-gang sempit di tengah kota. Nafasku tersengal-sengal, dikejar oleh sosok manusia yang menikmati penderitaanku. Mereka tidak peduli dengan kehidupan sosial atau perlindungan terhadap sesama. Yang ada di pikiran mereka hanyalah cara baru untuk menyiksaku.

Dengan segenap kekuatan, aku berhasil meloloskan diri dari ikatan tali tambang yang membelenggu tangan dan kakiku. Teman asrama, seorang sahabat setia, menyelipkan pisau kecil ke tanganku. Dia tidak bisa membantuku secara langsung karena takut ketahuan oleh para penyiksa itu. Namun, keberaniannya memberiku harapan.

 

Pada tahun pertama di asrama, aku menjalani tugas-tugas kecil hingga besar tanpa menyadari bahwa orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungku adalah ancaman terbesar.

Tahun kedua, mereka mulai berani menyentuhku, menginjak, memukul, dan menendang. Aku menangis dan ketakutan, bingung apakah harus melaporkan ini kepada pengurus atau orang tuaku. Ketakutan akan balas dendam mereka membuatku bungkam.

Tahun ketiga, penderitaanku semakin berat. Hidupku berada di ambang keputusasaan. Mereka yang seharusnya melindungi, justru terus melukai. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk bercerita kepada kedua orang tuaku, berharap mereka tidak melaporkannya kepada pengawas asrama. Aku takut, namun aku tahu ini adalah langkah pertama menuju kebebasan.

 

Pada malam hari, pukul 22.10, aku dibawa ke belakang asrama oleh senior-seniorku. Mata ditutup, kedua tangan dan kaki diikat erat. Aku tidak bisa melihat apa pun di sekitarku, namun jari jemariku merasakan dedaunan basah yang menandakan bahwa kami berada di hutan belakang sekolah.

Mereka menyeretku ke dalam kegelapan hutan, tujuan mereka masih menjadi misteri. Badanku gemetar hebat, kaku karena ketakutan. Nafasku terengah-engah, jantungku berdetak kencang seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Kegelapan menyelimuti diriku, membuatku merasa terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung. Aku berteriak dalam hati, “YA ALLAH, KENAPA SELALU AKU??!”

Tiba-tiba, pukulan keras menghantam kepalaku. Kayu tebal yang mereka gunakan membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Aku meringis kesakitan, air mata mengalir tanpa henti. Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkanku sendirian di hutan. Aku bisa mendengar langkah kaki mereka menjauh, mungkin untuk mengambil sesuatu yang lebih mengerikan.

Dalam keheningan yang mencekam, aku mendengar suara langkah kaki mendekat, menyapu dedaunan di sekitarnya. “Hey… Hey… Sssttt,” suara seorang anak laki-laki terdengar pelan.

“Jangan… Stopp… Ampun…” aku memohon dengan bibir gemetar, ketakutan setengah mati.

“Tenang… Ini aku, teman sekamarmu, Dion,” ucap anak itu. “Ambillah, aku tidak bisa lama-lama di sini. Mereka akan segera kembali. Cepatlah!” lanjutnya dengan nada tergesa-gesa.

“Apa ini? Sebuah pisau?” tanyaku, namun Dion sudah lebih dulu pergi meninggalkanku.

Dengan tangan gemetar, aku segera memotong tali yang mengikat tanganku. Mata masih tertutup, membuat setiap gerakan terasa lebih sulit. Tangan tergores oleh pisau, namun aku terus berusaha. Akhirnya, ikatan tangan terlepas. Aku membuka penutup mata dan segera memotong tali di kaki.

Suara mereka semakin mendekat. Aku berlari secepat mungkin menuju utara, tempat di mana kota berada. Nafasku semakin berat, keringat bercucuran di setiap inci kulitku. Mereka terus mengejarku, apa yang mereka inginkan dariku? Aku hanyalah seorang pelajar yang sedang mencari ilmu.

Aku berhasil memasuki kota, berlari melalui gang-gang kecil yang gelap. Hanya ada lampu di setiap sudut gang dan cahaya bulan purnama yang menyinari langkah kakiku. Keringat bercucuran, napasku tersengal-sengal. Aku berhasil melintasi gang-gang kecil ini, namun tiba-tiba cahaya terang menyelimuti diriku. Bukan lampu, bukan juga bulan, tapi cahaya mobil dari arah kanan. Aku tertabrak, dan dunia seketika menjadi gelap.

Aku terlempar beberapa meter, nyawaku tak tertolong. Di persimpangan jalan ini, aku menghembuskan napas terakhirku.

 

 

 

 

 

 

Komentar

  1. Wauu!! Keren kak! 😎 beneran langsung dibikinin! Dijadiin novel seru nih kak 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terlalu sedih gak sih ceritanya 😭😢😵😷

      Hapus
    2. Bikinin versi pelaku kak

      Hapus

Posting Komentar

Berikan Pesan Positif Anda :)

Postingan populer dari blog ini

Pembentukkan Karakter Anak Sebelum Terjun ke Dunia Pendidikan yang Sebenarnya

     KETIKA  AYAH IBU TELAH MENGERTI PERANNYA MASING-MASING!     Pendidikan berawal dari kita ketika didalam kandungan. Ibu kita membaca cerita dongeng, bernyanyi dengan riang, mengajarkan cara kita berdoa'a, dan Ayah kita mengajarkan cara berbicara yang baik. Saat kita hadir di dunia ini, kita diberikan pelukan pertama oleh ibu kita yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya hidup dan mati untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saat kita menangis ketika baru lahir disitulah peran pendidik ibu dimulai,  dan kita lihat secara nyata.       Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun tak luput jua seorang Ayah sebagai pemegang kurikulum dan fasilitator untuk berjalanya pendidikan non formal bagi anak ketika berada dirumah. Ketika, ibu mengajarkan kata perkata huruf, susunan angka, bahkan mengajarkan agama kepada anak-anaknya di usia dini, itu berdampak besar bagi mereka pada saat mereka masuk ke dunia pendidikan formal ya...

SUDUT BUNTU

  APA YANG KALIAN KETAHUI TENTANG PERANG ABSTRAK? Disudutkan dengan sesuatu yang mengganggu jalan fikir kita bahkan bisa menjadi ancaman seluruh manusia. Kabar itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkan orang personal. Diakibatkan, karena kelalaian kita dalam mengawasi gerak-gerik musuh. Terlalu lama kita berdiam diri dan berleha-leha dalam kehidupan yang megah. Sampai pada di titik, membangunkan adrenalin kita yang berimbas kepada gerakan-gerakan perlindungan.  Langkah pertama, yang terbesit difikiran kita pastilah bagaimana melindungi keluarga kita dari serangan musuh. yang padahal banyak nyawa yang harus di selamatkan. Ketar-ketir mencari benteng perlindungan agar bisa menjadi tombak yang menghancurkan. Tetapi, tetap saja musuh ada didepan mata. Percakapan dan kesepakatan adalah langkah awal untuk mencegah pertengkaran. Yang pada akhirnya menyetopkan pengiriman barang kepada pihak lawan yang sedang berseteru. Pihak lawan pun menjadi ketar-ketir karena bagaimana bisa ra...

STOP MENJADI ALAT PRAKTIK SUATU LEMBAGA

         BAGAIMANA CARA MENGETAHUI BONEKA BERJALAN? Mengatasnamakan rasa juga enggan melupa semua kejadian yang begitu memprihatinkan seperti sengaja dihilangkan atau dilupakan masyarakat. Duka dan perih masih dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Dengan kekuasaan yang kini kau pegang sudah bisa membangun bahkan melenyapkan orang. Pantas saja orang sepertimu melakukan hal seperti itu, karena hati dan mata mu sudah tertutup. Roh yang dibalut dengan jiwa disebut manusia, hati dan fikiran semestinya yang menjalankan. Tetapi, kamu bersikap seolah dikendalikan. Yaps, benar. Kamu adalah boneka nya. Dia adalah pemiliknya. Atau bisa disebut juga kamu adalah wayangnya sedangkan mereka adalah dalangnya. Sulit memang menjangkau fikiran orang dewasa, tetapi sangat mudah membaca tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal konyol apa yang semestinya tidak ditampakan oleh orang dewasa. Bersikap bijaksana namun ingkar dengan sifat bijaksana bahkan jauh melampa...