Langsung ke konten utama

KESENDIRIAN MEMBUNUHKU SECARA PERLAHAN


KESENDIRIAN MEMBUNUHKU SECARA PERLAHAN 





KESENDIRIAN MEMBUNUHKU SECARA PERLAHAN 



Pernah ku merasakan kesepian sampai setengah mati, mendekap rasa di tengah kesendirian, memeluk raga di tengah kegelapan, menangis di tengah kesunyian, menahan amarah yang sebenarnya ingin ku ungkapkan, namun tak mampu ku lepaskan.


Pernah ku juga, merasakan bahagia, terlalu bahagia sampai tak ingat kematian, tertawa lepas tanpa beban yang terpasang. Aku pernah menjadi manusia yang paling bahagia di muka bumi ini.


Misalnya, ketika aku masih kecil, setiap hari Minggu adalah hari paling bahagia karena ayah selalu mengajakku pergi ke taman bermain. Di sana, kami menghabiskan waktu bermain ayunan, perosotan, dan makan es krim bersama. Tawa dan senyum ayah membuatku merasa sangat dicintai. Kenangan indah ini selalu terpatri dalam ingatanku, memberi kebahagiaan yang sulit digantikan.


Namun, pada akhirnya aku menemukan titik di mana aku terlalu kecewa pada pilihan yang telah ku pilih, pada pilihan yang selalu aku besarkan namanya di tengah keramaian maupun di tengah kesendirianku.


Aku pun tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi dan menimpa diriku yang telah jatuh cinta kepada kebahagiaan ini. Apakah kebahagiaanku sampai di sini saja? Apakah ini saja yang dapat ku terima dari sebuah kebahagiaan?


Aku pernah merasakan kehilangan akal karena tak kunjung menemukan jawaban atas persoalan yang aku hadapi. Kini, aku sendirian, tanpa hadirnya kebahagiaan di sekitarku. Aku hanyalah diriku, bukan orang lain, dan tanpa orang lain.


Di saat aku sudah menemukan semua jawaban atas persoalan yang ku hadapi, lantas mengapa aku tidak sebahagia ini lagi? Dan aku tetap sendiri lagi. Lagi dan lagi, aku mengharapkan kebersamaan sebagai tagihanku kepada kesedihan yang aku alami selama ini.


Lalu, aku bangkit kembali. Membangun sebuah pondasi kokoh agar aku tak mudah rapuh lagi. Aku akan menjadi pilar terkuat untuk diriku. Lagi dan lagi, aku hanyalah diriku. Bukan orang lain. Dan tanpa orang lain.


Ketika aku berhadapan dengan orang lain, aku hanya tersenyum. Betapa beruntungnya melihat senyuman indah memancar di hadapan orang itu. Meski hati tak getir, karena hati seperti telah kuat dari hari ke hari, aku hanyalah kuat dengan sendirinya. Aku telah membangun pondasi terkuat dalam diriku.


Pena yang selalu ada dalam genggamanku, pena yang selalu memantulkan bayangan-bayangan nyata di bawah sinar lampu kamarku. Aku, tidak sendirian lagi. Karena, kamu selalu ada. Namun, hanya aku yang tak sadar lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembentukkan Karakter Anak Sebelum Terjun ke Dunia Pendidikan yang Sebenarnya

     KETIKA  AYAH IBU TELAH MENGERTI PERANNYA MASING-MASING!     Pendidikan berawal dari kita ketika didalam kandungan. Ibu kita membaca cerita dongeng, bernyanyi dengan riang, mengajarkan cara kita berdoa'a, dan Ayah kita mengajarkan cara berbicara yang baik. Saat kita hadir di dunia ini, kita diberikan pelukan pertama oleh ibu kita yang telah berjuang mempertaruhkan nyawanya hidup dan mati untuk menghadirkan kita di dunia ini. Saat kita menangis ketika baru lahir disitulah peran pendidik ibu dimulai,  dan kita lihat secara nyata.       Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, namun tak luput jua seorang Ayah sebagai pemegang kurikulum dan fasilitator untuk berjalanya pendidikan non formal bagi anak ketika berada dirumah. Ketika, ibu mengajarkan kata perkata huruf, susunan angka, bahkan mengajarkan agama kepada anak-anaknya di usia dini, itu berdampak besar bagi mereka pada saat mereka masuk ke dunia pendidikan formal ya...

SUDUT BUNTU

  APA YANG KALIAN KETAHUI TENTANG PERANG ABSTRAK? Disudutkan dengan sesuatu yang mengganggu jalan fikir kita bahkan bisa menjadi ancaman seluruh manusia. Kabar itu datang secara tiba-tiba dan mengagetkan orang personal. Diakibatkan, karena kelalaian kita dalam mengawasi gerak-gerik musuh. Terlalu lama kita berdiam diri dan berleha-leha dalam kehidupan yang megah. Sampai pada di titik, membangunkan adrenalin kita yang berimbas kepada gerakan-gerakan perlindungan.  Langkah pertama, yang terbesit difikiran kita pastilah bagaimana melindungi keluarga kita dari serangan musuh. yang padahal banyak nyawa yang harus di selamatkan. Ketar-ketir mencari benteng perlindungan agar bisa menjadi tombak yang menghancurkan. Tetapi, tetap saja musuh ada didepan mata. Percakapan dan kesepakatan adalah langkah awal untuk mencegah pertengkaran. Yang pada akhirnya menyetopkan pengiriman barang kepada pihak lawan yang sedang berseteru. Pihak lawan pun menjadi ketar-ketir karena bagaimana bisa ra...

STOP MENJADI ALAT PRAKTIK SUATU LEMBAGA

         BAGAIMANA CARA MENGETAHUI BONEKA BERJALAN? Mengatasnamakan rasa juga enggan melupa semua kejadian yang begitu memprihatinkan seperti sengaja dihilangkan atau dilupakan masyarakat. Duka dan perih masih dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Dengan kekuasaan yang kini kau pegang sudah bisa membangun bahkan melenyapkan orang. Pantas saja orang sepertimu melakukan hal seperti itu, karena hati dan mata mu sudah tertutup. Roh yang dibalut dengan jiwa disebut manusia, hati dan fikiran semestinya yang menjalankan. Tetapi, kamu bersikap seolah dikendalikan. Yaps, benar. Kamu adalah boneka nya. Dia adalah pemiliknya. Atau bisa disebut juga kamu adalah wayangnya sedangkan mereka adalah dalangnya. Sulit memang menjangkau fikiran orang dewasa, tetapi sangat mudah membaca tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang dewasa. Hal konyol apa yang semestinya tidak ditampakan oleh orang dewasa. Bersikap bijaksana namun ingkar dengan sifat bijaksana bahkan jauh melampa...